Yap, teman-teman khususnya dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia dalam blog ini akan saya paparkan visi, misi, dan program kerja DPM 2009 dari seorang Dhiemas R Y S, calon anggota DPM Independen dengan nomor urut 4.
VISI
“Mengakar, Aspiratif, dan Transparan”
MISI
- Menyosialisasikan dan melaksanakan hasil Musyawarah Mahasiswa (MUSMA) Fasilkom UI.
- Mengaktifkan Majelis Mahasiswa (MaMa).
- Mengoptimalisasi penjaringan aspirasi mahasiswa Fasilkom UI.
- Melakukan laporan pertanggungjawaban kinerja DPM kepada publik mahasiswa Fasilkom UI.
PROGRAM KERJA
Semoga tulisan ini menjadi saksi bagi janji dan tekad saya jika terpilih sebagai anggota DPM Independen Fasilkom UI 2009 dan saya siap untuk mundur secara terbuka apabila saya tidak melaksanakannya.
Buku Saku MUSMA ini berisikan hasil Musyawarah Mahasiswa (MUSMA) 2006 dan akan dibagikan ke seluruh mahasiswa Fasilkom UI.
Evaluasi Fakultas ini berupa kuesioner yang akan diisi oleh para mahasiswa dan hasilnya akan disampaikan kepada dekanat Fasilkom UI.
Ada dua buah metode yang akan digunakan untuk menyerap aspirasi mahasiswa Fasilkom UI, yaitu:
Mempublikasikan laporan kinerja DPM kepada publik mahasiswa Fasilkom UI melalui mading.
Friday, November 21, 2008
Visi, Misi, dan Program Kerja DPM 2009
POSTED
at
1:04 PM
4
comments
Thursday, October 23, 2008
Kapan Laki-laki Harus Berbohong?
Seorang laki-laki penjual minyak goreng keliling bernama JUMANTO, seperti biasa menjajakan dagangannya di tepian Sungai Citarum. "Nyak nyak minyaaak...", teriaknya. Di jalanan menurun tiba-tiba gerobaknya yang penuh dengan botol minyak tergelincir ke Sungai Citarum. Plung ...lap... tenggelamlah gerobak kesayangan nya itu. Huuu..huuu. . . menangislah dia..., "Harus kuberi makan apa istriku nanti ...huuu....". Tiba-tiba, seorang Malaikat yang baik hati muncul dan bertanya: "Hai JUMANTO ...? kenapa gerangankah sehingga engkau menangis begitu? (Ternyata, yang namanya JUMANTO ... tahu juga ya itu Malaikat :D).
"Oh, Malaikat... gerobak minyak goreng saya tergelincir ke sungai".
"Baiklah ... aku akan ambilkan untukmu". Tiba- tiba Malaikat itu menghilang dan muncul lagi dengan sebuah kereta kencana dari emas, penuh dengan botol dari intan.
"Inikah punyamu?", tanya Malaikat.
"Bukan, gerobakku tidak sebagus itu, mana mungkin penghasilan saya yang 200 ribu sebulan bisa beli kereta kencana? Itu pun sudah ditambah komisi penjualan yang cuma sedikit."
Malaikat itu pun menghilang lagi dan muncul dengan sebuah kereta perak dengan botol dari perunggu. "Inikah punyamu?", tanyanya.
"Bukan, hai Malaikat yang baik, punyaku cuma dari besi biasa. Botolnya juga botol biasa."
Lalu Malaikat itu pergi lagi dan kali ini kembali dengan gerobak dan botol Si JUMANTO.
"Inikah punyamu....?"
"Benar ya Malaikat. Terima kasih sekali engkau telah membantu yang lemah ini untuk mengambilkannya untukku."
Malaikat berkata, "Engkau jujur sekali, ya JUMANTO. Untuk itu sebagai hadiah dari kejujuranmu aku berikan semua kereta dan botol tadi untukmu...."
"Terima kasih ya Tuhan ... terima kasih ya Malaikat."
Sebulan kemudian, JUMANTO rafting bersama istrinya di sungai yang sama, naas tak dapat ditolak, malang tak bisa dihindari. Perahu karetnya terbalik dan istrinya terhanyut.
"Huuu, huuu, istriku, di mana engkau?", isaknya.
Tiba - tiba Malaikat pun muncul lagi. "Kenapa lagi engkau ya JUMANTO ?"
"Istri saya hanyut dan tenggelam di sungai, hai Malaikat.."
"Ohhh tenang ... aku akan ambilkan...."
"Plash..." Malaikat itu menghilang dan tiba-tiba muncul kembali sambil membawa Nafa Urbach, yang ada tato mawar di perutnya.
"Inikah istrimu?" tanya Malaikat.
"Betul, betul sekali ya Malaikat ... dialah istriku."
"Haaaaaaiiii JUMANTO!!" Malaikat membentak marah. "Sejak kapan kamu berani berbohong? Di manakah kejujuran kamu sekarang..?"
Sambil bergetar dan berjongkok, JUMANTO berkata, "Ya, Malaikat, kalau aku jujur, nanti engkau menghilang lagi dan membawa Bella Saphira, kalau kubilang lagi bukan, maka engkau akan menghilang lagi dan membawa Sandra Dewi , lalu kalau kubilang bukan juga engkau menghilang lagi dan membawa istriku yang sebenarnya, Lalu.. engkau akan bilang bahwa aku jujur sekali dan engkau akan memberikan ke empat-empatnya kepadaku."
"Buat membiayai hidup isteriku aja aku udah kerepotan ya Malaikat, apalagi NafaUrbah, Bella Saphira, aduh berat ya Malaikat..."
Malaikat pun termangu dan mengangguk - angguk. "Benar juga kamu ya..JUMANTO, kamu memang realistis..."
"Oh, Malaikat... gerobak minyak goreng saya tergelincir ke sungai".
"Baiklah ... aku akan ambilkan untukmu". Tiba- tiba Malaikat itu menghilang dan muncul lagi dengan sebuah kereta kencana dari emas, penuh dengan botol dari intan.
"Inikah punyamu?", tanya Malaikat.
"Bukan, gerobakku tidak sebagus itu, mana mungkin penghasilan saya yang 200 ribu sebulan bisa beli kereta kencana? Itu pun sudah ditambah komisi penjualan yang cuma sedikit."
Malaikat itu pun menghilang lagi dan muncul dengan sebuah kereta perak dengan botol dari perunggu. "Inikah punyamu?", tanyanya.
"Bukan, hai Malaikat yang baik, punyaku cuma dari besi biasa. Botolnya juga botol biasa."
Lalu Malaikat itu pergi lagi dan kali ini kembali dengan gerobak dan botol Si JUMANTO.
"Inikah punyamu....?"
"Benar ya Malaikat. Terima kasih sekali engkau telah membantu yang lemah ini untuk mengambilkannya untukku."
Malaikat berkata, "Engkau jujur sekali, ya JUMANTO. Untuk itu sebagai hadiah dari kejujuranmu aku berikan semua kereta dan botol tadi untukmu...."
"Terima kasih ya Tuhan ... terima kasih ya Malaikat."
Sebulan kemudian, JUMANTO rafting bersama istrinya di sungai yang sama, naas tak dapat ditolak, malang tak bisa dihindari. Perahu karetnya terbalik dan istrinya terhanyut.
"Huuu, huuu, istriku, di mana engkau?", isaknya.
Tiba - tiba Malaikat pun muncul lagi. "Kenapa lagi engkau ya JUMANTO ?"
"Istri saya hanyut dan tenggelam di sungai, hai Malaikat.."
"Ohhh tenang ... aku akan ambilkan...."
"Plash..." Malaikat itu menghilang dan tiba-tiba muncul kembali sambil membawa Nafa Urbach, yang ada tato mawar di perutnya.
"Inikah istrimu?" tanya Malaikat.
"Betul, betul sekali ya Malaikat ... dialah istriku."
"Haaaaaaiiii JUMANTO!!" Malaikat membentak marah. "Sejak kapan kamu berani berbohong? Di manakah kejujuran kamu sekarang..?"
Sambil bergetar dan berjongkok, JUMANTO berkata, "Ya, Malaikat, kalau aku jujur, nanti engkau menghilang lagi dan membawa Bella Saphira, kalau kubilang lagi bukan, maka engkau akan menghilang lagi dan membawa Sandra Dewi , lalu kalau kubilang bukan juga engkau menghilang lagi dan membawa istriku yang sebenarnya, Lalu.. engkau akan bilang bahwa aku jujur sekali dan engkau akan memberikan ke empat-empatnya kepadaku."
"Buat membiayai hidup isteriku aja aku udah kerepotan ya Malaikat, apalagi NafaUrbah, Bella Saphira, aduh berat ya Malaikat..."
Malaikat pun termangu dan mengangguk - angguk. "Benar juga kamu ya..JUMANTO, kamu memang realistis..."
POSTED
at
1:45 PM
10
comments
Labels: Cerpen
Saturday, July 12, 2008
Karcis Suplisi di Kereta Ekonomi???
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, aku segera bergegas meninggalkan kampus bundar semata-mata untuk mengejar kedatangan kereta ekonomi terakhir. Tatkala aku masih menjelajahi Balhut, bel di stasiun UI berbunyi diiringi oleh suara petugas stasiun yang memberitahukan bahwa kereta ekonomi terakhir tujuan Manggarai segera tiba. Aku menoleh ke arah selatan, telah terpancar sebuah cahaya yang berasal dari lampu sorot kereta sedang bergerak menuju stasiun UI. Segera aku berpacu kaki dengan kereta ekonomi tersebut.
Tebak, siapakah yang menang? Sudah jelas sekali kendaraan beroda besi tersebut mengalahkanku. Namun, beruntunglah aku masih bisa menapakkan kakiku di dalam kereta tersebut, bahkan dapat menyandarkan diriku di atas pangkuan kursi kereta.
Tak lama kemudian, datanglah seorang pria tua yang mengenakan seragam kemeja biru muda dan celana panjang biru tua. Dia berjalan menghampiri setiap penumpang yang berada dalam gerbong kereta ini. Penumpang yang jujur (termasuk aku) pasti akan menunjukkan karcisnya kepada orang tersebut. Lalu, tibalah ia kepada seorang Ibu tua yang duduk tepat di sebelah kananku.
"Kricek...kricek...," sebuah tanda bahwa petugas karcis tersebut ingin memeriksa karcis penumpang yang sedang dihampirinya dengan memainkan alat pelubang karcis yang selalu dibawanya.
"Maaf, Pak. Tadi stasiunnya udah tutup... Jadi, gak bisa beli karcis...," terang Ibu tua tersebut dengan polosnya.
"Ya udah, Bu. Ibu harus bayar karcis suplisi," balas petugas tersebut sambil merogoh saku celananya.
Dikeluarkanlah dua gepok karcis suplisi yang sudah terlihat lusuh. Dari salah satu gepokan tersebut diambillah selembar karcis suplisi. Karcis suplisi ini ternyata lebih besar ukurannya daripada karcis biasa, malah hampir seukuran uang kertas. Karcis tersebut kemudian diserahkan kepada Ibu tua tadi, lalu Ibu itu membayarkan uang sejumlah harga karcis suplisi tersebut — lima ribu rupiah — setelah sebelumnya bertanya kepada petugas tadi berapa harga karcis suplisi.
Aku memerhatikan kejadian ini terus menerus, dengan harapan tidak ada momen satu detik pun yang terlewatkan. Sebab ini adalah sebuah kejadian yang sangat langka dan aku pun baru pertama kali menyaksikannya. Tidak ada rasa dongkol yang tersirat dalam muka Ibu tua tersebut, sedangkan petugas tersebut hanyalah tersenyum sambil menuliskan sebuah catatan karcis suplisi yang digunakan tadi.
Berlalulah petugas karcis tersebut ke orang lain. Aku terus memerhatikan petugas tersebut. Orang-orang yang dihampirinya ternyata tidak sejujur Ibu tua yang berada di sebelahku ini. Ada yang pura-pura tidur sehingga membuat petugas malas untuk membangunkannya. Ada yang ketika dihampiri hanya memberikan senyuman kepada petugas (Wow, hebat... Senyumannya itu bisa seharga karcis kereta ekonomi...). Ada pula yang merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan selembar uang seribu rupiah kepada petugas tersebut. Tapi anehnya lagi, petugas tersebut menerima semua perlakuan orang-orang tersebut... Dimanakah keberanian dan kejujuran petugas tersebut yang ia berikan kepada Ibu tua yang berada di sebelahku??? Dalam hatiku menjawab, mungkin petugas tersebut hanyalah dapat berani dan jujur pada orang-orang yang jujur.
Tebak, siapakah yang menang? Sudah jelas sekali kendaraan beroda besi tersebut mengalahkanku. Namun, beruntunglah aku masih bisa menapakkan kakiku di dalam kereta tersebut, bahkan dapat menyandarkan diriku di atas pangkuan kursi kereta.
Tak lama kemudian, datanglah seorang pria tua yang mengenakan seragam kemeja biru muda dan celana panjang biru tua. Dia berjalan menghampiri setiap penumpang yang berada dalam gerbong kereta ini. Penumpang yang jujur (termasuk aku) pasti akan menunjukkan karcisnya kepada orang tersebut. Lalu, tibalah ia kepada seorang Ibu tua yang duduk tepat di sebelah kananku.
"Kricek...kricek...," sebuah tanda bahwa petugas karcis tersebut ingin memeriksa karcis penumpang yang sedang dihampirinya dengan memainkan alat pelubang karcis yang selalu dibawanya.
"Maaf, Pak. Tadi stasiunnya udah tutup... Jadi, gak bisa beli karcis...," terang Ibu tua tersebut dengan polosnya.
"Ya udah, Bu. Ibu harus bayar karcis suplisi," balas petugas tersebut sambil merogoh saku celananya.
Dikeluarkanlah dua gepok karcis suplisi yang sudah terlihat lusuh. Dari salah satu gepokan tersebut diambillah selembar karcis suplisi. Karcis suplisi ini ternyata lebih besar ukurannya daripada karcis biasa, malah hampir seukuran uang kertas. Karcis tersebut kemudian diserahkan kepada Ibu tua tadi, lalu Ibu itu membayarkan uang sejumlah harga karcis suplisi tersebut — lima ribu rupiah — setelah sebelumnya bertanya kepada petugas tadi berapa harga karcis suplisi.
Aku memerhatikan kejadian ini terus menerus, dengan harapan tidak ada momen satu detik pun yang terlewatkan. Sebab ini adalah sebuah kejadian yang sangat langka dan aku pun baru pertama kali menyaksikannya. Tidak ada rasa dongkol yang tersirat dalam muka Ibu tua tersebut, sedangkan petugas tersebut hanyalah tersenyum sambil menuliskan sebuah catatan karcis suplisi yang digunakan tadi.
Berlalulah petugas karcis tersebut ke orang lain. Aku terus memerhatikan petugas tersebut. Orang-orang yang dihampirinya ternyata tidak sejujur Ibu tua yang berada di sebelahku ini. Ada yang pura-pura tidur sehingga membuat petugas malas untuk membangunkannya. Ada yang ketika dihampiri hanya memberikan senyuman kepada petugas (Wow, hebat... Senyumannya itu bisa seharga karcis kereta ekonomi...). Ada pula yang merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan selembar uang seribu rupiah kepada petugas tersebut. Tapi anehnya lagi, petugas tersebut menerima semua perlakuan orang-orang tersebut... Dimanakah keberanian dan kejujuran petugas tersebut yang ia berikan kepada Ibu tua yang berada di sebelahku??? Dalam hatiku menjawab, mungkin petugas tersebut hanyalah dapat berani dan jujur pada orang-orang yang jujur.
POSTED
at
12:52 PM
3
comments
Labels: Catatan Harian
Saturday, May 10, 2008
RSS Feed Yahoo! Mail
Namun, entah mengapa akun emailku tidak dapat memanfaatkan fasilitas RSS Feed ini sesuai harapan. Berkali-kali aku memasukkan feed dari beberapa blog, seperti Ayo ngeBlog! selalu saja gagal. Terlihat pesan singkat seperti ini:
Oleh karena itu, aku menelantarkan blog ini selama satu bulan lebih semata-mata untuk menganalisis bug ini (Hihihi...ini bohong deh :p). Namun, pada hari ini aku iseng-iseng googling untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang RSS Feed Yahoo! Mail dan ketemu. Ternyata, Yahoo! Mail menyediakan fasilitas ini di http://my.yahoo.com dan kukunjungi situs tersebut. Namun, sayangnya halamannya tidak muncul-muncul di depan layar monitor padahal aku sudah lama sekali menunggunya. Pada saat itu, aku sedang membuka Yahoo! Mail. Lalu, aku coba lagi untuk mengunjungi kembali situs itu dengan sebelumnya sign out terlebih dahulu dari Yahoo! Mail dan ternyata bisa. Kemudian, aku masuk dengan memakai akun Yahoo!-ku sendiri, tapi sekali lagi aku tidak beruntung. Yang hanya ditampilkan hanyalah halaman putih kosong membentang. Dari, kejadian ini aku mengambil hipotesis bahwa mungkin karena akun Yahoo!-ku berdomisili di Indonesia, maksudnya buntut alamat emailku .co.id bukan .com, jadi tidak bisa. Mungkin ada yang mengalami hal yang sama sepertiku?
POSTED
at
1:04 PM
6
comments
Saturday, April 5, 2008
Selamat Tinggal KFC!!!
Setelah mengalami kompetisi yang sangat sengit akhirnya KFC tidak masuk babak perempat final (Eiits, ketipu ya!!!). Yap, KFC dalam konteks ini adalah Kentucky Futsal Club bukan Kentucky Fried Chicken. Kemenangan sebanyak 5 kali ternyata belum cukup mengantarkan tim ini maju ke babak selanjutnya karena sebelumnya juga telah mengalami 5 kali kekalahan.
Pertandingan terakhir melawanMourinho FC Morinho FC telah menghasilkan skor 3-2 atas tim lawan walaupun aku dan rekan satu tim sudah berusaha semaksimal mungkin. Sebenarnya KFC bisa memenangi pertandingan ini. Hanya saja, keberuntungan belum memihak kepadanya ketika 2 buah peluang untuk menjebol gawang Mourinho FC Morinho FC luput. Dan lebih parahnya lagi, salah satu atau keduanya karena kesalahanku :-D (lupa nih, maklum orang kan mudah untuk melupakan kesalahannya).
Namun dengan kegagalan ini, ada manfaat yang dapat kuambil ke depannya. Salah satunya, aku bisa fokus kembali ke kuliah, organisasi, dan blogku (Bohong banget nih!!!). Tak dapat dipungkiri bahwa KFC telah banyak menyita perhatianku (Wah, bohong++ !!!). Selain itu, waktu istirahatku di rumah bertambah karena jadwal hari Sabtu telah kosong (Ini baru bener..!!!).
Aku berterima kasih kepada dukungan lebih yang diberikan oleh Tim Begitu Memukau pada pertandingan terakhir ini. Semoga Begitu Memukau dapat menjuarai kejuaraan CS League ini :-D.
Pertandingan terakhir melawan
Namun dengan kegagalan ini, ada manfaat yang dapat kuambil ke depannya. Salah satunya, aku bisa fokus kembali ke kuliah, organisasi, dan blogku (Bohong banget nih!!!). Tak dapat dipungkiri bahwa KFC telah banyak menyita perhatianku (Wah, bohong++ !!!). Selain itu, waktu istirahatku di rumah bertambah karena jadwal hari Sabtu telah kosong (Ini baru bener..!!!).
Aku berterima kasih kepada dukungan lebih yang diberikan oleh Tim Begitu Memukau pada pertandingan terakhir ini. Semoga Begitu Memukau dapat menjuarai kejuaraan CS League ini :-D.
POSTED
at
1:29 PM
4
comments
Labels: Catatan Harian, Kampus
Subscribe to:
Posts (Atom)

