Wednesday, January 16, 2008

Feminisme koq,,, salah kaprah?

Feminisme rasanya tidak asing lagi di telinga kita. Adalah gerakan yang diawali oleh persepsi tentang ketimpangan posisi keperempuanan. Kartini -pahlawan Indonesia-red- biasa menyebutnya dengan Emansipasi. Pada awalnya feminisme bangkit untuk membela para wanita dari ketertindasan serta menuntut penyerataan hak perempuan dan laki-laki dalam segala bidang.

Tapi kemudian Feminisme, yang semula lahir sebagai gerakan yang membela kaum wanita dalam meningkatkan harga diri wanita yang ingin dinilai sesuai dengan potensinya sebagai manusia tanpa harus memandang gender, kemudian mulai disalahartikan. Ingin menaikan harga diri tapi malah menjatuhkan (harga) diri sendiri.

Sedikit cerita, di Austria kesalahpahaman mengenai arti kata “Feminisme”, membuat bocah 14 tahun mau bertukar pasangan 3 kali dalam sehari. Ketika ditanya alasannya, kemudian ia menerangkan “Boys can do it, then why we can`t…saya merasa bangga bisa menaklukan 3 orang cowok dalam sehari. Dan diantara mereka tidak perlu ada yang tahu satu dengan lainnya. Itu kan yang biasa dilakukan pria, seenaknya berganti-ganti pasangan, kemudian menyakiti para gadis”.

Di belahan negara lainnya, seorang wanita menuntut persamaan toilet, karena wanita diyakini juga dapat (maaf) kencing berdiri seperti halnya pria. Saya juga pernah mendengar adanya gerakan “Feminisme bertelanjang dada” dan “gerakan pembakaran BH”.

Feminisme kemudian disalahartikan oleh kaum wanita itu sendiri. Banyak wanita yang menjadi korban salah kaprah ini. Ironis sekali, Feminisme yang terlahir sebagai cita-cita mulia para wanita pendahulu, kemudian berubah menjadi kemerosotan harga diri seorang wanita, yang lucunya - namun juga menyedihkan – si wanita itu sendiri tidak menyadarinya. Menyadari bahwa ia telah menjatuhkan harga dirinya.

Di Indonesia sendiri? Virginitas bagi wanita Indonesia(tidak semuanya), sekarang bukanlah suatu hal yang patut dipertahankan lagi. Saya pernah bertanya pada seorang teman -wanita juga-red- , apa yang menyebabkan wanita tak perlu lagi mempertahankan ke-virgin-annya, ia menjawab “Kalau pria saja bisa mengobral ke-virgin-annya(keperjakaan), mengapa kita harus menjaganya? Saat kita mulai menjalani hubungan itu(pacaran), kita gak pernah tau apakah dia masih(perjaka) atau gak. Lagian bukan suatu hal yang aneh lagi jika di zaman sekarang ini banyak cewek yang gak virgin lagi”. Benarkah jawaban atas semua itu adalah zaman semata?

Kerancuan anggapan mengenai “Feminisme” inilah yang perlu dibenahi.Anggapan yang kemudian menggeser tradisi dan budaya yang kita banggakan dengan budaya kiriman yang baru (Western).

Hal lain! Menurut pengamatan yang saya lakukan, rupanya di Indonesia, Bandung khususnya, rokok menjadi komoditas utama yang digemari wanita-wanita zaman sekarang, selain pakaian dan cemilan. Menurut sebagian diantaranya, rokok lebih bisa menenangkan pikiran, dibandingkan shopping&ngemil –ada sebagian wanita yang lari dari permasalahan dengan cara-cara ini-red.

Dan alasan lainnya, tentu saja “cowok juga ngerokok kok… kenapa kita-kita gak boleh??” Padahal tidak perlu di jelaskan lagi, semua yang saya jabarkan di atas (termasuk rokok), tak lain akan merugikan kaum wanita itu sendiri.

Sebodoh itukah wanita-wanita sekarang? “Feminisme”(radikal) telah menutup mata hati mereka untuk melihat kerugian yang mereka alami. Sebodoh itukah? Padahal banyak diantara mereka yang mengeyam pendidikan dan pengajaran.

Bukan saatnya kita berdebat apakah karena saking bodohnya mereka atau saking pintarnya. Saatnya sekarang wanita-wanita bangkit memperjuangkan Feminisme yang sebenarnya. Bagi wanita-wanita yang sudah telanjur pada kesalahan yang tidak ‘disengaja’ tadi, bangkitlah dari keterpurukan. Bagi wanita-wanita yang mampu melihat fenomena ini, bantulah untuk bangkit. Kita harus benar-benar bersatu.

O ya! Bagaimana kalau saya ajak anda-anda berpikir sebaliknya? Kalau selama ini wanita selalu saja dituntut untuk menjaga budaya ketimuran (yang semula dirasa menguntungkan kaum pria), hingga akhirnya muncul yang namanya “Feminisme”yang kemudian disalah-artikan, dan menyebabkan serba salah. Bagaimana kalau sekarang kita yang menuntut mereka-kaum pria-red- untuk tidak hanya menuntut keperawanan, tapi mereka juga harus menjaganya (keperjakaan) juga.

Kita sudah terlalu sering mengikuti mereka, bahkan membuat mereka menjadi satu acuan kesetaraan. Bagaimana kalau sekarang, mereka mengikuti kita? Harus dimengerti memang, kalau wanita perawan sekarang sangat jarang ditemui. Oleh karena itu pria sebaiknya tak usah mempermasalahkan Virginitas wanita(biarkan kaum wanita itu sendiri yang mempermasalahkan dan mencari solusi bagi dirinya). Pria sebaiknya lebih menghargai wanita, baik ia virgin (apalagi) atau tidak virgin (apa boleh buat). Toh selama ini wanita selalu menghargai pria tanpa memandang Virgin atau tidaknya.

Dan sekali lagi, jangan hanya menuntut wanita untuk menjaga kaidah-kaidah ketimuran. Pria juga wajib menjaga dong (pahala), sebagaimana kaidah-kaidah keagamaan. Selama ini wanita dituntut untuk lebih mengerti dan mau menjaga. Pria? Rasanya tidak ada tuntut yang seperti itu dalam hal ini.

Mengenai rokok? Katakan saja ”Ngertilah....hari gini gitu loh..(zaman sekarang). Kalian-pria-red- juga jangan ngerokok dong.. jangan cuma bisa ngelarang doang”. Kenapa saya katakan zaman sekarang? Zaman yang udah berubah mau gak mau harus kita terima sementara, sebelum kita benar-benar mengubahnya.

Bagaimana? Siap untuk merubahnya wanita-wanita? Memperjuangkan hak-hak wanita yang sebenarnya? Anda yang tahu jawabannya. Anda juga yang lebih tahu caranya.

Dikutip dari: dudung.net

baca selengkapnya...

Friday, January 11, 2008

[End]Matinya Hercules dan Xena

Kisah Sebelumnya...

***

Negeri di Awan, tak berwaktu.

Petir menggelegar. Awan menutupi cakrawala. Dewa-dewi dirundung dukacita mahahebat atas matinya Hercules dan Xena. Mereka sedih bukan kepalang – berhari-hari mengadakan upacara kematian, bernyanyi-nyanyi dalam kolam kepedihan. Mereka kecewa. Mereka menyesal, mengapa mengorbankan Hercules dan Xena. Mereka murka terhadap negeri yang membunuh putra-putri terbaik mereka. Mereka benci, teramat benci. Dendam berkobar di pusat mata….

Tanpa dikomando lagi, seluruh dewa-dewi berkumpul dengan pakaian perang. Masing-masing menciptakan pasukan perang (anjing, kucing, rajawali, kodok, heina, serigala, banteng, monyet, singa, harimau, gajah, buaya) lengkap dengan persenjataan ampuh.

Seketika angin berseliweran. Petir menyambar-nyambar. Ombak menggeram. Awan gulung-gemulung. Gunung-gunung berloncatan. Hujan menderas ganas. Semua bersatu dan berpacu dalam mission impossible: meluluhlantakkan negeri yang mereka sebut Negeri Jahanam!


***

Negeri tanpa peta, dalam hitungan burung hantu.

Bersamaan petir menggelegar dahsyat, langit mendadak gelap. Teramat gelap dengan awan bergulung hitam. Dari balik awan menyerbu jutaan kelelawar dan burung-burung gagak bersayap darah, memekik-mekik – berlelehan kutukan…

”Ssssrrrrrrrrrkkkkqqqqq….! Gggrrrrrrrrhhhhhsssssiiissss…..! Kkkrrrrrrraaaaaaakkkkkkggggghh….! Wweeeeerrrrrrrrrxxxxmmmmmmssss……!”

baca selengkapnya...

Wednesday, January 9, 2008

[Part II]Matinya Hercules dan Xena

Kisah Sebelumnya...

”Sedari tadi kami sudah mendengar pembicaraan dewa-dewi yang mulia. Dan kami sudah tahu tugas kami. Kami sangat memahaminya. Tak perlu ragu. Kami siap menyelesaikannya,” tegas Hercules, tegar. Xena pun mengangguk pasti.

Mendengar semangat juang Hercules dan Xena, seketika dewa-dewi terpana lega. Wajah kembali diangkat. Sekujur tubuh mereka bermandikan cahaya yang luar biasa. Lalu, mereka berlompatan sambil bersorak: ssssuuuuuiiiiiitttjjjjbbbblllluuuungggg…

”Masalah hidup mati kami tak perlu diperdebatkan. Apalagi seluruh makhluk tahu, kita tak mungkin mati,” ucap Hercules.

Mendengar itu, cahaya yang memenuhi dewa-dewi semakin berpendaran, dan sorak semakin riuh: sssuuuiiiirrrrjjjjbbbblllluuunnggggeeeeennggg….

”Masih berjubel masalah lain yang lebih pelik yang patut diperdebatkan. Misalnya, masalah anak-anak terlantar, pengangguran, dan sekolah-sekolah yang ambruk. Itu perlu dicarikan solusi. Terlebih lagi, masalah politikus yang banyak omong, patut dibasmi,” lanjut Xena seraya mengedarkan pandangan ke seluruh dewa-dewi, ”Mulai banyak di antara dewa-dewi yang nganggur tetapi terus foya-foya. Segala cara dihalalkan asal dapat memperoleh kenikmatan. Juga semakin banyak dewa-dewi yang kerjanya cuma jual janji, tetapi tak satu pun terbukti. Kerjanya cuma menipu ke sana-ke mari.”

Bagi dewa-dewi yang masih berjiwa, segera menunduk, malu. Sementara dewa-dewi yang tak berjiwa atau kehabisan jiwa, tetap cuek – bahkan ada yang mangut-mangut, seolah paling suci.

”Betul. Persoalan-persoalan seperti itu patut segera diselesaikan,” tandas Hercules.

Di antara dewa-dewi, ada yang tersedu-sedu menepuki kepala:

nngguuiiiinngggxxxxiiiinnnggsssrrreeeeelllkkkfff…

”Satu hal yang kami pelajari, mati dalam tugas adalah suatu kehormatan,” tambah Xena, ”dari pada mati kecebur di comberan, diseruduk sapi, atau keserempet truk.”

Tiba-tiba dewa-dewi terperangah senang dan bersorak bangga: tttrrrruuuuuiiiiinggggg…

”Jadi, sungguh, kalian siap menjalankan misi mahapenting ini?” tanya dewa berpakaian cahaya keemasan.

Hercules dan Xena mengangguk.

”Sudah siap menghadapi segala risiko yang mengancam di lapangan?”

Hercules dan Xena kembali mengangguk.

”Meski keberadaan kalian menjadi taruhan?”

”Tugaskan saja kami. Apa pun risikonya siap kami hadapi. Dan kami akan bertanggung jawab terhadap segala perbuatan kami,” tegas Hercules dan Xena berbarengan. ”Tak perlu cari kambing hitam.”

Dewa-dewi bertepuk tangan, bersorak sukacita tiada terkira: tttrrruuuuiiinnngggrreeeeeennnngggg….

Maka, dengan membawa segala ilmu dan persenjataan, Hercules dan Xena berangkat, turun ke bumi – menumpas kejahatan yang merajalela di sebuah negeri.


***

Negeri tanpa peta, dalam hitungan burung hantu.

Hercules dan Xena terperangah. Mulut mereka sampai menganga sedalam goa. Benar-benar tak percaya atas segala peristiwa yang terjadi di negeri yang kini di depan mata.

Begitu Hercules dan Xena menjejakkan kaki, tepatnya di tanah air negeri yang ditakutkan dewa-dewi itu, langsung disambut huru-hara mengerikan. Orang-orang saling serang, saling bunuh. Wanita-wanita diperkosa beramai-ramai. Darah berceceran di jalan-jalan dan pekarangan rumah – dijadikan hiasan. Korban bergelimpangan – persis sampah. Pistol, pisau, pedang dan kelewang dijadikan mainan. Sementara pejabat dan konglomerat asyik berjudi sambil minum arak dan makan sate hati siapa saja.

”Ya, ampun!” pekik Xena terbelalak selebar-lebarnya. Bolamatanya hampir meloncat. ”Gimana mungkin kita mampu melawan keganasan turun-temurun ini? Lebih buas dari seribu singa!”

Hercules mengempas napas, tak berdaya. ”Kebuasan mereka bahkan sudah berurat berakar. Otak mereka sudah dijejali cacing, ulat dan lintah. Hati mereka sudah menjadi sarang ular-ular berbisa. Tubuh mereka sudah menjadi hunian iblis dan hantu. Saya yakin, mereka jauh lebih kejam dari Medusa,” resah Hercules.

”Sudah kita habisi ratusan penyihir jahat yang memiliki kesaktian luar biasa, tetapi, ah, rasanya kita tak sanggup mengalahkan mereka,” sahut Xena.

”Lihat, cenderawasih mereka kelupas lalu dipanggang, rencong mereka patah-patahkan, hijau hutan mereka cabik-cabik, selendang biru danau mereka koyak-moyak, nyanyian sungai mereka nodai hingga berlendir hitam. Ah, tak terhitung keganasan mereka…”

”Melihat besarnya kekuatan jahat mereka, saya tak tahu bertindak apa,” ucap Hercules. ”Baru pertama kali seumur hidup saya menyaksikan kejahatan selaknat ini.”

”Malah, aku yakin, kuasa kejahatan mereka lebih besar dari seratus iblis laknat sekali pun. Kekuatan kita tak ada artinya,” lirih pedih Xena.

”Ya, kita tak akan mampu mengubah mereka, meski dengan segala ilmu, kuasa dan persenjataan yang kita punya,” tanggap Hercules. ”Jangan-jangan, kekuatan seluruh dewa-dewi pun tak akan sanggup mengalahkan mereka.”

Pelahan, lemas segala persendian Hercules dan Xena. Di saat itulah ribuan lembing hinaan dilontarkan ke arah mereka.

”Hei, lihat, artis menyambangi kita! Emangnya suting film atau sinetron, berjudul ‘ketololan tiada akhir’! Atau, mereka sedang melakonkan adegan pejabat pura-pura turun ke desa!”

”Ah. Paling juga orang gila! Orang sok jagoan yang punya ilmu kebal dan bisa terbang. Puih, kayak film Indonesia!”

Lalu, mereka tertawa dan berjumpalitan – lebih seram dari drakula. Lalu, mereka melucuti pakaian, telanjang menari-nari, sesukanya.

Hercules dan Xena terkejut luar biasa. Tetapi, tiba-tiba tawa itu berubah penyerbuan senjata tajam dan caci maki. ”Bangsat! Jahanam! Kurang ajar! Bajingan tengik! Anak jadah! Setan!”

Hercules dan Xena lebih tercekam. Lalu, caci maki itu memuncak menjadi tuduhan keji disertai lemparan kotoran ke muka Hercules dan Xena. ”Mereka pengkhianat! Perampok! Penipu! Perusak moral! Pemerkosa! Pembunuh! Aktor intelektual! Penyulut pertikaian!!!”

Hercules dan Xena ketakutan, menggigil gemetaran, melihat mereka berubah menjadi ular-ular raksasa buas berkepala tujuh bertanduk seribu. Ribuan pasang mata nyalang merah tuba siap memangsa. Dan air liur merembes jingga di debu tanah.

Tiba-tiba terdengar teriakan, ”Buuunnnnuuuuuhhhhhh…!!!”

Sebelum Hercules dan Xena tersadar atas bahaya yang di depan mata, ular-ular raksasa buas berkepala tujuh bertanduk seribu itu berlomba menerkam:

”Nngggggrrrrrrrrreeeeekkkkkkkqqqjjjjhhhhh…..!!!”

Bersusah payah Hercules dan Xena melawan. Segala ilmu, kuasa dan persenjataan mereka keluarkan, tetapi tak mampu menghalau serangan ular-ular raksasa kelaparan itu. Serangan menderas tuba. Hercules dan Xena kewalahan. Serangan bukan berkurang, malah semakin banyak; mati satu tumbuh seribu — bermunculan dari tingkap-tingkap kegelapan dengan mata berkilatan dan taring haus darah. Hercules dan Xena sudah kehabisan ilmu dan kehebatan, hingga terdesak kelelahan dengan tubuh tercabik-cabik.

Akhirnya, diiringi jerit ketidakberdayaan dan petir yang menggelegar, Xena roboh bermandi darah, disusul Hercules. Ular-ular raksasa edan itu segera mengerubungi, menjilati darah, dan menyeret tubuh Hercules dan Xena ke dalam kegelapan tak bertepi…(bersambung)

Bagaimanakah reaksi Negeri Awan mendengar kekalahan Hercules dan Xena ini?


baca selengkapnya...

Friday, January 4, 2008

[Part I]Matinya Hercules dan Xena

Sebuah cerpen Maroeli Simbolon

Negeri di Awan, tak berwaktu. Dewa-dewi sedang mengadakan rapat penting dengan agenda utama: ”kekuasaan dewa-dewi terancam, sedang menuju kematian, akibat pengaruh negatif suatu negeri”. Entah negeri apa. Saking pelik persoalan mahapenting ini, mereka sampai tak mencatat nama negeri itu. Cuma wajah mereka berkerut-merut, bahkan ada yang sekujur tubuhnya ikut mengerut. Betapa mereka dililit persoalan yang luar biasa sulit.

Suasana sepi. Angin pun tak berani mengganggu keseriusan mereka. Persoalan ini sangat mendesak diselesaikan. Jika tidak, keberadaan dewa-dewi di ambang kehancuran total. Tetapi, apa yang terjadi? Sudah tujuh belas tahun mereka memikirkannya, otak mereka tak kunjung menemukan kunci penyelesaiannya. Entah kenapa. Apakah kekuatan mereka selaku dewa-dewi juga mulai terpengaruh oleh negeri itu?

”Apa yang harus kita lakukan menghalau pengaruh buruk negeri itu? Tidak adakah dari kita yang mampu memberi masukan?” tanya dewa yang berpakaian cahaya keemasan.

Dewa-dewi lainnya tetap merenung dan berpikir.

”Ah. Percuma saja kita dewa…” rutuknya. Lalu, ia mondar-mandir dengan tubuh semakin berkerut. ”Kerja kita cuma tahu memuji yang baik dan mengutuk yang jelek.”

Mendengar itu, secara tak sadar mereka mengakui, kekuasaan mereka tak mampu meredam pengaruh buruk negeri yang mengancam harmoni mereka. Untuk menghadapi negeri yang mereka sebut tak mengenal kasih sayang itu, sepertinya mereka tak berdaya. Haruskah mereka menjadi badut yang tak lucu, atau menjadi katak bodoh?

”Persoalan ini harus segera diselesaikan. Jika tidak, tinggal menghitung waktu, kita akan habis,” tanggap dewi yang berpakaian cahaya ungu keemasan. ”Coba rasakan pengaruh busuk dan tamak negeri itu sangat kuat menyusupi kita. Ini sangat berbahaya bagi kelangsungan kita. Ini tak boleh kita biarkan.”

Semua dewa-dewi mengangguk, tetapi tubuh semakin mengkerut.

”Betul. Saya kira, kita semua setuju pendapat itu. Masalah krusialnya, apa dan bagaimana menyelesaikannya,” tanggap dewi berpakaian cahaya keperakan sambil meluncur.

Dewa-dewi lainnya kembali merenung, membisu. Bahkan, ada yang semakin mengkerut di balik gugusan awan. Suasana semakin sepi sepisau nyeri.

Dan tiba-tiba, di tengah kebisuan yang mencekam itu, salah satu dewa cebol berpakaian cahaya pelangi teriak, ”Aku ada akal!”

Serta-merta suaranya yang keras cempreng itu mengagetkan dewa-dewi lainnya. Maka, sorot mata tertuju tepat ke arahnya, menanti tak sabar. Tetapi, dewa cebol berpakaian cahaya pelangi malah menunggu respons dari teman-temannya. ”Bagaimana?”

Dewa-dewi lainnya menjadi kesal bercampur geli. ”Bagaimana apanya?” dewi berpakaian cahaya kebiruan balik bertanya sambil menggeram ”Ya, kalian setuju usulku?”

”Setuju gimana? Kamu belum menyebutkan isi usulmu…”

Dewa cebol berpakaian cahaya pelangi tertawa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang agak pitak. ”O, iya, ya,” ujarnya menyadari kesalahannya. ”Maksudku begini,” lanjutnya seraya menggelinding ke depan, ”Gimana jika kita tugaskan Hercules dan Xena untuk menyelesaikan masalah ini?!”

Petir menggelegar. Seketika dewa-dewi terkesima. Cukup lama terdiam, saling tatap. Hingga kemudian, pelahan-lahan satu per satu wajah mereka memancarkan cahaya.

”Usul menarik,” tanggap dewa berpakaian cahaya pelangi keemasan. ”Tak ada salahnya jika kita coba. Kita tugaskan Hercules dan Xena turun ke bumi untuk memberantas penyakit negeri itu. Ternyata, begitu gampang menyelesaikannya.”

”Betul,” seru dewa-dewi lainnya, nyaris serempak.

”Betul. Itu tugas gampang bagi Hercules dan Xena. Harus segera dilaksanakan.”

”Mengapa selama ini kita tak berpikir cerdas, ya?” gerutu dewa berpakaian cahaya hijau keperakan sambil menepuk-nepuk keningnya yang menonjol. ”Hampir delapan tahun kita habiskan sia-sia untuk membahas ini. Ah, memalukan.”

Dewa-dewi lainnya tersipu-sipu, dan akhirnya tertawa geli — menyadari ketololan.

”Kalau begitu, biar saya panggilkan Hercules dan Xena,” ujar dewa cebol berpakaian cahaya pelangi. Dan bersiap menggelinding menembus awan.

”Tunggu dulu!” teriak dewa berpakaian cahaya kuning keperakan, yang sedari tadi berdiam diri dengan bergelantungan di atas.

Maka, seketika dewa cebol berpakaian cahaya pelangi berhenti. Dewa-dewi lainnya spontan menoleh.

”Sebelum Hercules dan Xena dipanggil untuk misi mahapenting ini, aku cuma ingin menanyakan sesuatu...” lanjutnya seraya memperhatikan dewa-dewi lainnya.

”Begini. Pada prinsipnya aku setuju. Tetapi, perlu kita pikirkan bersama-sama, bagaimana jika Hercules dan Xena gagal?”

Dewa-dewi lainnya terperangah: Aaaaaaaakkhhh! Lalu, tertawa: wweeeeeerrrrr…

”Apakah kalian tidak memikirkan hal terburuk?”

Dewa-dewi mangut-mangut, lalu kasak-kusuk. ”Hercules sendiri saja pasti berhasil menyelesaikannya, apalagi dibantu Xena. Nah, mana mungkin Hercules dan Xena gagal...” teriak dewa-dewi hampir bersamaan diiringi tawa menggelegar: wweeeeerrrrrrrr... Lalu, mereka berputar-putar di udara. Suasana menjadi bising: zzzzuuuuuuiiiiiiiiiiiiiiinnnnngggggg…

Di tengah kebisingan itu, dewa cebol berpakaian cahaya pelangi bicara keras, ”Jelas, itu tak perlu kita bahas. Saat ini, kita cuma butuh cara cepat dan akurat menuntaskan penyakit kronis yang melanda negeri itu sebelum pengaruhnya menghancurkan kita!”

Mendengar penjelasan itu, dewa-dewi lainnya bersorak, dan kembali berputar-putar di udara: zzzzuuuiiiiiinnnggggggsssllleeeekkkk…

Dewa berpakaian cahaya kuning keperakan berjumplitan sambil bicara, ”Sudah kukatakan, aku setuju usul itu. Tetapi, tak kurang penting untuk kita pikirkan, gimana bila tugas itu mengalami kegagalan.”

”Adakah yang meragukan Hercules dan Xena?”

”O, tidak. Sungguh, tak ada yang meragukan kekuatan mereka. Setiap tugas selalu mereka selesaikan dengan hasil yang luar biasa.”

”Nah, apa lagi?” tegas dewa cebol.berpakaian cahaya pelangi. ”Lebih cepat mereka bertindak, tentu lebih baik.”

”Silakan,” ucap dewa berpakaian kuning keperakan sambil tersenyum. ”Tetapi, apa yang harus kita lakukan, jika mereka gagal?”

Dewa cebol berpakaian cahaya pelangi menggeram. ”Jika tidak kita coba, apa kita tahu mereka gagal?” tantangnya. ”Harus kita mulai!”

”Maksudku, gimana bila Hercules dan Xena tewas?” desak dewa berpakaian cahaya kuning keperakan.

Mendadak kebisuan menyergap. Dewa-dewi termangu. Dewa cebol berpakaian cahaya pelangi bertopang dagu.

”Maaf. Ini perlu juga kita pikirkan. Siapa yang bertanggung jawab bila misi Hercules dan Xena gagal?”


Suasana semakin bisu menjadi batu. Dewa-dewi tertunduk. Dan selendang kesunyian ini cukup lama menyelimuti mulut dewa-dewi. Bahkan angin sepertinya berhenti bertiup. Hingga kemudian, entah bagaimana, Hercules dan Xena telah muncul di tengah-tengah mereka, memperhatikan mereka satu per satu. Sebaliknya dewa-dewi merenung.....(bersambung)

Bagaimanakah reaksi Hercules dan Xena terhadap kejadian ini?

baca selengkapnya...

Thursday, January 3, 2008

Hibernasi Selama Satu Bulan

Wah, parah juga nih blog saya! :( Tidak ter-update selama 36 hari. Alasannya sih klasik, sibuk di dunia nyata baik dari yang penting sampai yang kurang penting seperti mempersiapkan + mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS), menyelesaikan tugas-tugas kuliah, sampai dengan mempersiapkan bahan untuk liburan alias download film (Ha...ha..ha...ha...ha). Padahal sih, ide-ide untuk mengisi blog ini sudah banyak sekali sampai-sampai ide-ide itu tumpah berceceran ke jalan-jalan karena sudah tidak dapt ditampung lagi :p

Sebelumnya, untuk menulis kembali di blog ini, saya harus mengalami gejolak batin yang sangat tinggi (cieeeee....). Saya sempat frustasi dengan blog ini, apakah dimatikan saja atau tidak. Akhirnya, datang juga juru penyelamat saya — Bung Toni — yang telah memberikan motivasi kepada saya untuk melanjutkan menulis di blog. Saya mohon maaf sekali terhadap pembaca atau komentator blog saya apabila selama ini tidak bisa membaca atau memberikan komentar pada blog saya (Uhuuk...uhuuk).

baca selengkapnya...