Friday, January 30, 2009

Bertambahnya Kenangan Pahit di Angkot...

Hari ini merupakan hari ke-4 semenjak diberlakukannya turunnya tarif angkutan umum (bus, mikrolet, dsb) sebesar Rp 500,- pada 27 Januari lalu. Namun, rasanya kenikmatan ini tidak dapat dirasakan oleh seluruh pengguna jasa angkutan umum. Hanyalah orang-orang yang berani dapat merasakannya, termasuk saya...hehehe... Mengapa? Setidaknya, tarif angkutan umum yang saya naiki dari rumah saya - Terminal Kp. Melayu, para supir angkutan umum masih mengenakan tarif lama, yakni Rp 2500,- untuk trayek saya sendiri.

Pada hari pertama, ketika berangkat saya masih menggunakan tarif lama walaupun sebelumnya saya sudah mengetahui kabar penurunan tarif itu, tapi itu pun masih setengah percaya karena sumbernya gak jelas. Setiba di kampus, saya segera mengecek kembali kebenaran isu tersebut dan memang ternyata benar. Akhirnya, ketika pulang menuju rumah saya bertekad untuk membayar sesuai dengan kewajiban saya, yakni Rp 2000. Ketika akan membayar angkot, kebetulan sekali uang saya sepuluh ribuan. Pertama kali, saya berprasangka baik dahulu kepada supir angkot dengan mengasumsikan dia sudah mengetahui kabar tarif angkutan umum yang baru ini. Namun, ketika saya memberikan lembar sepuluh ribuan tersebut, dia hanya mengembalikan uang sebesar Rp 7500,-. Dalam hati saya bergumam, "Kurang gopek nih bang!!!". Lalu, langsung saja dengan lagak seperti preman (halah!!!) saya bilang ke abang tersebut, "Bang, kan udah turun gopek!!!". Beberapa kali saya ulang pernyataan tersebut karena abangnya sepertinya budeg terlihat dengan lagaknya dari kasat mata saya. Walhasil, dikasih juga deh koin Rp 500,- hak saya.

Pada hari kedua, saya masih ingin melihat apakah sudah ada perubahan atau tidak mengenai tarif angkutan umum di tengah masyarakat. Ketika berangkat, Alhamdulillah saya punya duit pas jadi langsung saja bayar Rp 2000 kepada abang supirnya. Tidak terdengar caci makian yang keluar dari abang supir tersebut kepada saya. Artinya, dia sendiri sudah mengetahui kabar penurunan tarif ini. Tapi, tetap saja yang lainnya pada bayar pakai tarif lama. Wah, gak jujur nih... Ketika pulangnya, saya gak ada duit pas dan mau gak mau harus siap beradu mulut lagi nih dengan abang supirnya. Eh, bener kan... lagi-lagi abang supirnya ngembaliinnya kurang gopek. Saya tegur lagi dengan kalimat yang sama seperti hari kemarin. Akhirnya, abang supirnya nyerah, dia ngasih koin gopekan ke saya seraya menggerutu,"baru juga kemarin dituruninnya...". Sebenarnya sih saya ingin balas lagi tuh, tapi gak sempet terlafazkan di lidah. Hanya di hati saja bergumam,"ketika BBM naik kemarin, sontak tarif angkutan umum dinaikkan juga pada hari juga, padahal belum dapat instruksi dari pihak Organda. Tapi sekarang, ketika tarifnya resmi diturunin, kok gak langsung ngikutin ya???"

Pada hari ketiga, saya gak kemana-mana jadi belum tau udah ada perubahan secara kultural gak di tengah-tengah masyarakat. Pada hari keempat, hari ini, saya juga belum bisa memastikan apakah sudah terjadi perubahan atau tidak. Karena pada hari ini, kebetulan uang saya recehan semua dan cukup untuk ongkos bolak-balik. Sampai kapankah kebohongan ini tetap berada di tengah-tengah masyarakat??? Supir angkotnya gak jujur, tapi kok kebanyakan masyarakat diam saja, tidak berusaha menegakkan kebenaran tersebut. Ya, setidaknya menuntut apa yang menjadi haknya seperti yang saya lakukan.

Sebenarnya, selain masalah tarif angkutan umum, yang sedang hangat-hangatnya di benak saya, masih ada masalah lain yang pernah jadi topik perdebatan saya ketika di angkutan umum, misalnya rokok. Tapi waktu itu, aktor utamanya bukan abang sopirnya melainkan seorang penumpang sedangkan abang supirnya cuma sebagai figuran.

baca selengkapnya...

Friday, November 21, 2008

Visi, Misi, dan Program Kerja DPM 2009

Yap, teman-teman khususnya dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia dalam blog ini akan saya paparkan visi, misi, dan program kerja DPM 2009 dari seorang Dhiemas R Y S, calon anggota DPM Independen dengan nomor urut 4.

VISI
“Mengakar, Aspiratif, dan Transparan”

  • “Mengakar” artinya keberadaan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) diketahui dan dirasakan manfaatnya bagi civitas akademika Fakultas Ilmu Komputer UI.
  • “Aspiratif” artinya keberadaan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) sebagai wadah yang aktif menampung aspirasi mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UI.
  • “Transparan” artinya keberadaan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) yang berani untuk melaporkan kinerjanya kepada publik mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UI.
MISI
- Menyosialisasikan dan melaksanakan hasil Musyawarah Mahasiswa (MUSMA) Fasilkom UI.
- Mengaktifkan Majelis Mahasiswa (MaMa).
- Mengoptimalisasi penjaringan aspirasi mahasiswa Fasilkom UI.
- Melakukan laporan pertanggungjawaban kinerja DPM kepada publik mahasiswa Fasilkom UI.

PROGRAM KERJA

  • Buku Saku MUSMA
    Buku Saku MUSMA ini berisikan hasil Musyawarah Mahasiswa (MUSMA) 2006 dan akan dibagikan ke seluruh mahasiswa Fasilkom UI.
  • Evaluasi Fakultas
    Evaluasi Fakultas ini berupa kuesioner yang akan diisi oleh para mahasiswa dan hasilnya akan disampaikan kepada dekanat Fasilkom UI.
  • Media Aspirasi Mahasiswa (MAM)
    Ada dua buah metode yang akan digunakan untuk menyerap aspirasi mahasiswa Fasilkom UI, yaitu:
    • Offline, dengan cara mengoptimalisasi peran anggota DPM dalam menyerap aspirasi mahasiswa di angkatannya masing-masing khususnya dan mahasiwa Fasilkom UI umumnya.
    • Online, melalui media online seperti email, forum diskusi di SCeLe, dll.
  • Pojok DPM
    Mempublikasikan laporan kinerja DPM kepada publik mahasiswa Fasilkom UI melalui mading.
Semoga tulisan ini menjadi saksi bagi janji dan tekad saya jika terpilih sebagai anggota DPM Independen Fasilkom UI 2009 dan saya siap untuk mundur secara terbuka apabila saya tidak melaksanakannya.

baca selengkapnya...

Thursday, October 23, 2008

Kapan Laki-laki Harus Berbohong?

Seorang laki-laki penjual minyak goreng keliling bernama JUMANTO, seperti biasa menjajakan dagangannya di tepian Sungai Citarum. "Nyak nyak minyaaak...", teriaknya. Di jalanan menurun tiba-tiba gerobaknya yang penuh dengan botol minyak tergelincir ke Sungai Citarum. Plung ...lap... tenggelamlah gerobak kesayangan nya itu. Huuu..huuu. . . menangislah dia..., "Harus kuberi makan apa istriku nanti ...huuu....". Tiba-tiba, seorang Malaikat yang baik hati muncul dan bertanya: "Hai JUMANTO ...? kenapa gerangankah sehingga engkau menangis begitu? (Ternyata, yang namanya JUMANTO ... tahu juga ya itu Malaikat :D).

"Oh, Malaikat... gerobak minyak goreng saya tergelincir ke sungai".

"Baiklah ... aku akan ambilkan untukmu". Tiba- tiba Malaikat itu menghilang dan muncul lagi dengan sebuah kereta kencana dari emas, penuh dengan botol dari intan.

"Inikah punyamu?", tanya Malaikat.

"Bukan, gerobakku tidak sebagus itu, mana mungkin penghasilan saya yang 200 ribu sebulan bisa beli kereta kencana? Itu pun sudah ditambah komisi penjualan yang cuma sedikit."

Malaikat itu pun menghilang lagi dan muncul dengan sebuah kereta perak dengan botol dari perunggu. "Inikah punyamu?", tanyanya.

"Bukan, hai Malaikat yang baik, punyaku cuma dari besi biasa. Botolnya juga botol biasa."

Lalu Malaikat itu pergi lagi dan kali ini kembali dengan gerobak dan botol Si JUMANTO.

"Inikah punyamu....?"

"Benar ya Malaikat. Terima kasih sekali engkau telah membantu yang lemah ini untuk mengambilkannya untukku."

Malaikat berkata, "Engkau jujur sekali, ya JUMANTO. Untuk itu sebagai hadiah dari kejujuranmu aku berikan semua kereta dan botol tadi untukmu...."

"Terima kasih ya Tuhan ... terima kasih ya Malaikat."

Sebulan kemudian, JUMANTO rafting bersama istrinya di sungai yang sama, naas tak dapat ditolak, malang tak bisa dihindari. Perahu karetnya terbalik dan istrinya terhanyut.

"Huuu, huuu, istriku, di mana engkau?", isaknya.

Tiba - tiba Malaikat pun muncul lagi. "Kenapa lagi engkau ya JUMANTO ?"

"Istri saya hanyut dan tenggelam di sungai, hai Malaikat.."

"Ohhh tenang ... aku akan ambilkan...."

"Plash..." Malaikat itu menghilang dan tiba-tiba muncul kembali sambil membawa Nafa Urbach, yang ada tato mawar di perutnya.

"Inikah istrimu?" tanya Malaikat.

"Betul, betul sekali ya Malaikat ... dialah istriku."

"Haaaaaaiiii JUMANTO!!" Malaikat membentak marah. "Sejak kapan kamu berani berbohong? Di manakah kejujuran kamu sekarang..?"

Sambil bergetar dan berjongkok, JUMANTO berkata, "Ya, Malaikat, kalau aku jujur, nanti engkau menghilang lagi dan membawa Bella Saphira, kalau kubilang lagi bukan, maka engkau akan menghilang lagi dan membawa Sandra Dewi , lalu kalau kubilang bukan juga engkau menghilang lagi dan membawa istriku yang sebenarnya, Lalu.. engkau akan bilang bahwa aku jujur sekali dan engkau akan memberikan ke empat-empatnya kepadaku."

"Buat membiayai hidup isteriku aja aku udah kerepotan ya Malaikat, apalagi NafaUrbah, Bella Saphira, aduh berat ya Malaikat..."

Malaikat pun termangu dan mengangguk - angguk. "Benar juga kamu ya..JUMANTO, kamu memang realistis..."

baca selengkapnya...

Saturday, July 12, 2008

Karcis Suplisi di Kereta Ekonomi???

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, aku segera bergegas meninggalkan kampus bundar semata-mata untuk mengejar kedatangan kereta ekonomi terakhir. Tatkala aku masih menjelajahi Balhut, bel di stasiun UI berbunyi diiringi oleh suara petugas stasiun yang memberitahukan bahwa kereta ekonomi terakhir tujuan Manggarai segera tiba. Aku menoleh ke arah selatan, telah terpancar sebuah cahaya yang berasal dari lampu sorot kereta sedang bergerak menuju stasiun UI. Segera aku berpacu kaki dengan kereta ekonomi tersebut.

Tebak, siapakah yang menang? Sudah jelas sekali kendaraan beroda besi tersebut mengalahkanku. Namun, beruntunglah aku masih bisa menapakkan kakiku di dalam kereta tersebut, bahkan dapat menyandarkan diriku di atas pangkuan kursi kereta.

Tak lama kemudian, datanglah seorang pria tua yang mengenakan seragam kemeja biru muda dan celana panjang biru tua. Dia berjalan menghampiri setiap penumpang yang berada dalam gerbong kereta ini. Penumpang yang jujur (termasuk aku) pasti akan menunjukkan karcisnya kepada orang tersebut. Lalu, tibalah ia kepada seorang Ibu tua yang duduk tepat di sebelah kananku.

"Kricek...kricek...," sebuah tanda bahwa petugas karcis tersebut ingin memeriksa karcis penumpang yang sedang dihampirinya dengan memainkan alat pelubang karcis yang selalu dibawanya.

"Maaf, Pak. Tadi stasiunnya udah tutup... Jadi, gak bisa beli karcis...," terang Ibu tua tersebut dengan polosnya.

"Ya udah, Bu. Ibu harus bayar karcis suplisi," balas petugas tersebut sambil merogoh saku celananya.

Dikeluarkanlah dua gepok karcis suplisi yang sudah terlihat lusuh. Dari salah satu gepokan tersebut diambillah selembar karcis suplisi. Karcis suplisi ini ternyata lebih besar ukurannya daripada karcis biasa, malah hampir seukuran uang kertas. Karcis tersebut kemudian diserahkan kepada Ibu tua tadi, lalu Ibu itu membayarkan uang sejumlah harga karcis suplisi tersebut — lima ribu rupiah — setelah sebelumnya bertanya kepada petugas tadi berapa harga karcis suplisi.

Aku memerhatikan kejadian ini terus menerus, dengan harapan tidak ada momen satu detik pun yang terlewatkan. Sebab ini adalah sebuah kejadian yang sangat langka dan aku pun baru pertama kali menyaksikannya. Tidak ada rasa dongkol yang tersirat dalam muka Ibu tua tersebut, sedangkan petugas tersebut hanyalah tersenyum sambil menuliskan sebuah catatan karcis suplisi yang digunakan tadi.

Berlalulah petugas karcis tersebut ke orang lain. Aku terus memerhatikan petugas tersebut. Orang-orang yang dihampirinya ternyata tidak sejujur Ibu tua yang berada di sebelahku ini. Ada yang pura-pura tidur sehingga membuat petugas malas untuk membangunkannya. Ada yang ketika dihampiri hanya memberikan senyuman kepada petugas (Wow, hebat... Senyumannya itu bisa seharga karcis kereta ekonomi...). Ada pula yang merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan selembar uang seribu rupiah kepada petugas tersebut. Tapi anehnya lagi, petugas tersebut menerima semua perlakuan orang-orang tersebut... Dimanakah keberanian dan kejujuran petugas tersebut yang ia berikan kepada Ibu tua yang berada di sebelahku??? Dalam hatiku menjawab, mungkin petugas tersebut hanyalah dapat berani dan jujur pada orang-orang yang jujur.

baca selengkapnya...

Saturday, May 10, 2008

RSS Feed Yahoo! Mail

Setelah memakai Yahoo! Mail sebagai sarana untuk mencantumkan alamat pada dunia maya selama dua tahun, aku baru menyadari bahwa pada Yahoo! Mail ini terdapat fasilitas RSS Feed. Aku tidak tahu sejak kapan fasilitas ini ada. Oh ya, sebelum membahas lebih lanjut ada baiknya aku menjelaskan apakah 'makhluk' RSS Feed itu. RSS (Really Simple Syndication) adalah cara mudah dan otomatis untuk mengetahui berita terbaru dan update informasi dari seluruh Web. Sedangkan RSS Feed itu sendiri adalah cara kita untuk terhubung dengan konten ini. Nah, dengan fasilitas seperti ini pada Yahoo! Mail kita tidak perlu lagi repot-repot untuk membuka situs yang ingin kita tuju satu persatu. Kita tidak perlu me-load kembali suatu halaman situs dalam suatu jangka waktu secara periodik hanya karena untuk mengetahui apakah ada informasi terbaru di dalamnya.

Namun, entah mengapa akun emailku tidak dapat memanfaatkan fasilitas RSS Feed ini sesuai harapan. Berkali-kali aku memasukkan feed dari beberapa blog, seperti Ayo ngeBlog! selalu saja gagal. Terlihat pesan singkat seperti ini:
Bahkan lebih anehnya lagi, ketika aku menambahkan kembali RSS Feed dari situs yang direkomendasikan dari Yahoo! Mail ternyata tidak bisa, padahal sebelumnya aku bisa menambahkan RSS Feed itu.

Oleh karena itu, aku menelantarkan blog ini selama satu bulan lebih semata-mata untuk menganalisis bug ini (Hihihi...ini bohong deh :p). Namun, pada hari ini aku iseng-iseng googling untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang RSS Feed Yahoo! Mail dan ketemu. Ternyata, Yahoo! Mail menyediakan fasilitas ini di http://my.yahoo.com dan kukunjungi situs tersebut. Namun, sayangnya halamannya tidak muncul-muncul di depan layar monitor padahal aku sudah lama sekali menunggunya. Pada saat itu, aku sedang membuka Yahoo! Mail. Lalu, aku coba lagi untuk mengunjungi kembali situs itu dengan sebelumnya sign out terlebih dahulu dari Yahoo! Mail dan ternyata bisa. Kemudian, aku masuk dengan memakai akun Yahoo!-ku sendiri, tapi sekali lagi aku tidak beruntung. Yang hanya ditampilkan hanyalah halaman putih kosong membentang. Dari, kejadian ini aku mengambil hipotesis bahwa mungkin karena akun Yahoo!-ku berdomisili di Indonesia, maksudnya buntut alamat emailku .co.id bukan .com, jadi tidak bisa. Mungkin ada yang mengalami hal yang sama sepertiku?

baca selengkapnya...

Saturday, April 5, 2008

Selamat Tinggal KFC!!!

Setelah mengalami kompetisi yang sangat sengit akhirnya KFC tidak masuk babak perempat final (Eiits, ketipu ya!!!). Yap, KFC dalam konteks ini adalah Kentucky Futsal Club bukan Kentucky Fried Chicken. Kemenangan sebanyak 5 kali ternyata belum cukup mengantarkan tim ini maju ke babak selanjutnya karena sebelumnya juga telah mengalami 5 kali kekalahan.

Pertandingan terakhir melawan Mourinho FC Morinho FC telah menghasilkan skor 3-2 atas tim lawan walaupun aku dan rekan satu tim sudah berusaha semaksimal mungkin. Sebenarnya KFC bisa memenangi pertandingan ini. Hanya saja, keberuntungan belum memihak kepadanya ketika 2 buah peluang untuk menjebol gawang Mourinho FC Morinho FC luput. Dan lebih parahnya lagi, salah satu atau keduanya karena kesalahanku :-D (lupa nih, maklum orang kan mudah untuk melupakan kesalahannya).

Namun dengan kegagalan ini, ada manfaat yang dapat kuambil ke depannya. Salah satunya, aku bisa fokus kembali ke kuliah, organisasi, dan blogku (Bohong banget nih!!!). Tak dapat dipungkiri bahwa KFC telah banyak menyita perhatianku (Wah, bohong++ !!!). Selain itu, waktu istirahatku di rumah bertambah karena jadwal hari Sabtu telah kosong (Ini baru bener..!!!).

Aku berterima kasih kepada dukungan lebih yang diberikan oleh Tim Begitu Memukau pada pertandingan terakhir ini. Semoga Begitu Memukau dapat menjuarai kejuaraan CS League ini :-D.

baca selengkapnya...

Friday, March 28, 2008

Tak Berjudul

Horeee... Akhirnya di-update lagi blognya!!!
Untaian kata-kata di atas bukanlah keluar dari lidah para pembaca setia dari blogku :-p, melainkan dari diriku pribadi. Jika dilihat-lihat, blogku telah mengalami kevakuman kembali setelah sebelumnya pernah juga terjadi pada blog ini, bahkan lebih parah lagi. Aku tidak dapat memungkiri bahwa aktivitas di dunia nyata, terutama dunia kampus telah menyita waktuku untuk berinteraksi dengan aktivitas ngeblog. Bahkan, bukan hanya aktivitas ngeblog saja yang mengalami penurunan, porsi waktuku berinteraksi dengan dunia maya pun berkurang, misal mengunduh.

Memang benar bahwa 22 sks itu merupakan suatu hal yang berat untuk dijalankan. Aku tidak tahu mengapa 22 sks semester ini lebih berat daripada 22 sks semester kemarin. Belum genap dua bulan berjalan, aku sudah mengalami kepeningan yang parah pada otakku. Tubuhku mulai tidak bergairah menyambut kuliah. Jari jemariku sudah terlalu kaku untuk menulis. Kok, bahasanya jadi puitis begini ya? Oke, fokus kembali. Jadi, yang pasti 22 sks semester ini lebih menantang daripada 22 sks semester kemarin.

"Blog adalah trend sesaat", hampir saja blog ini mengikuti perkataan Om Suryo tadi. Dan hampir saja blog ini juga menjadi pelopor bahwa perkataan Om Suryo yang tadi ada benarnya. Akhirnya, dengan tekad yang masih bulan sabit, kuisi kembali blog ini untuk membuktikan bahwa perkataan beliau tidak benar, minimal itu berlaku pada diriku (Halah! Belagu banget nih ngomongnya).

baca selengkapnya...

Tuesday, February 5, 2008

Ahhh, Tidaak!!! Rekorku Terpecahkan!!!

Dengan niat yang mantap, kumulai hari ini agar lebih baik dari yang kemarin. Aku berangkat dari rumah jam setengah tujuh pagi, lebih cepat sepuluh menit dari hari kemarin. Hal ini kulakukan semata-mata untuk mengejar keberangkatan kereta yang lebih pagi, jam 7.10 waktu stasiun Tebet. Rasa optimis bernaung di pikiranku untuk bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu. Tidak ada gejala-gejala aneh yang timbul selama perjalanan menuju stasiun yang dapat mengganggu ketenangan jiwaku.

Namun, apa daya ketika sampai di stasiun Tebet. Aku melihat jarum panjang stasiun setempat menunjuk ke angka 3. Ahhh, telaaatt!!! Teriak batinku. Untungnya di sana aku dipertemukan dengan seorang sahabat SMA, Rizky aku memanggilnya. Dengan senyum, dia bertanya padaku, "Kuliah jam berapa, Dim?" Pertanyaan yang biasa terlontarkan kepada mahasiswa untuk basa-basi. "Jam delapan", jawabku dengan ekspresi muka sedikit gelisah. "Telat nih, kereta ekonomi berikutnya datang jam delapan kurang dikit", aku menambahkan jawaban sebelumnya.

Dia mengusulkan untuk naik kereta ekspress, tapi aku masih berkelit hati untuk tetap naik kereta ekonomi. "Kita tunggu sampai jam setengah delapan lebih dikit, kalau kereta ekonomi belum lewat juga baru beli tiket ekspress", tandasku dengan sedikit rasa optimis mengingat pengalaman kemarin telatnya dua puluh menit kedatangan kereta ekonomi dari jadwal biasa jam setengah delapan lebih sedikit.

Menit-menit berlalu dengan perbincangan antara aku dan Rizky diselingi dengan pertanyaanku tentang waktu saat itu. Akhirnya waktu sudah menunjukkan jam 7.34, tapi kereta ekonomi belum menunjukkan kedatangannya. Petugas stasiun masih belum memberitahu keberadaan kereta yang ditunggu-tunggu tersebut. Seorang sahabat ikut bergabung dalam perbincangan kami, Toyo biasa aku memanggilnya. Dia baru saja sampai ke stasiun dan sepertinya sedang terburu-buru. Setelah ditanyakan, ternyata benar dia harus sampai ke kampus jam setengah delapan pagi. Wah, ini lebih parah lagi!!!

Lima belas menit kemudian, kami memutuskan untuk membeli karcis ekspress. Rasa penyesalan timbul di dalam hatiku karena rekor tidak pernah naik kereta ekspress selama kuliah di UI-ku terhenti pada hari ini. Selang beberapa menit, kereta ekonomi datang lalu disusul kereta ekspress yang kami tunggu-tunggu di belakangnya dengan jeda waktu sekitar satu menit. Kereta ekspress yang kami tumpangi baru bisa membalap kereta ekonomi tadi di stasiun pasar minggu. Di sini, aku merasakan sedikit kesenangan batin karena membalap kereta ekonomi tadi yang ditunggu-tunggu. Jam 8.15 waktu stasiun UI, aku baru bisa menjejakkan kaki kembali. Langsung saja, aku bergegas menuju fasilkom secepat kakiku melangkah. Dalam perjalanan ini, aku merasa kesal sekali. Kekesalan yang timbul bukan hanya karena tidak berhasil mempertahankan rekor tidak pernah naik kereta ekspress selama kuliah di UI, tetapi juga keterlambatan masuk kuliah. walaupun sampai lima belas menit lebih dahulu daripada kereta ekonomi jika dibandingkan berdasarkan pengalaman kemarin, namun yang namanya telat adalah telat, tidak peduli berapa lama waktunya.

Namun, dengan kejadian ini aku menjadi lebih bersikap hati-hati lagi untuk menjaga rekor-rekorku yang lain selama menjalani studi di UI.

baca selengkapnya...

Wednesday, January 30, 2008

FAQ About Flatus

Flatus yang apabila diterjemahkan ke dalam Indonesia adalah 'kentut' merupakan fenomena alam yang biasa terjadi pada tubuh kita. Namun, fenomena alam yang sudah biasa ini masih saja dipertanyakan oleh banyak orang. Berikut pertanyaan-pertanyaan yang sering diutarakan oleh banyak orang beserta jawaban inteleknya.

1. Dari mana asal kentut ?
Dari gas dalam usus. Gas dalam usus berasal dari udara yang kita telan, gas yang menerobos ke usus dari darah, gas dari reaksi kimia & gas dari bakteri dalam perut.

2. Apa komposisi kentut ?
Bervariasi. Makin banyak udara anda telan, makin banyak kadar nitrogen dalam kentut (oksigen dari udara terabsorbsi oleh tubuh sebelum sampai di usus). Adanya bakteri serta reaksi kimia antara asam perut & cairan usus menghasilkan karbondioksida. Bakteri juga menghasilkan metana & hidrogen. Proporsi masing-masing gas tergantung apa yang anda makan, berapa banyak udara tertelan, jenis bakteri dalam usus, berapa lama kita menahan kentut. Makin lama menahan kentut, makin besar proporsi nitrogen, karena gas-gas lain terabsorbsi oleh darah melalui dinding usus. Orang yang makannya tergesa-gesa kadar oksigen dalam kentut lebih banyak karena tubuhnya tidak sempat mengabsorbsi oksigen. (Makanya jangan suka nahan kentut ).

3. Kenapa kentut berbau busuk ?
Bau kentut karena kandungan hidrogen sulfida & merkaptan. Kedua senyawa ini mengandung sulfur (belerang). Makin banyak kandungan sulfur dalam makanan anda, makin banyak sulfida & merkaptan diproduksi oleh bakteri dalam perut, & makin busuklah kentut anda. Telur & daging punya peran besar dalam memproduksi bau busuk kentut. Kacang-kacangan berperan dalam memproduksi volume kentut, bukan dalam kebusukannya.

4. Kenapa kentut menimbulkan bunyi ?
Karena adanya vibrasi lubang anus saat kentut diproduksi. Kerasnya bunyi tergantung pada kecepatan gas. (Dan diameter lubang anus anda, hi..hi….)

5. Kenapa kentut yang busuk itu hangat & tidak bersuara ?
Salah satu sumber kentut adalah bakteri. Fermentasi bakteri & proses pencernaan memproduksi panas, hasil sampingnya adalah gas busuk. Ukuran gelembung gas lebih kecil, hangat & jenuh dengan produk metabolisme bakteri yg berbau busuk. Ini kemudian menjadi kentut, walau hanya kecil volumenya, tapi SBD (Silent But Deadly).

6. Berapa banyak kentut diproduksi sehari ?
Rata-rata setengah liter sehari dalam 14 kali kentut.

7. Mengapa kentut keluar melalui lubang dubur ?
Karena density-nya lebih ringan, kenapa gas kentut tidak melakukan perjalanan ke atas? Tidak demikian. Gerak peristaltik usus mendorong isinya ke arah bawah. Tekanan di sekitar anus lebih rendah. Gerak peristaltik usus menjadikan ruang menjadi bertekanan, sehingga memaksa isi usus, termasuk gas-nya untuk bergerak ke kawasan yg bertekanan lebih rendah, yaitu sekitar anus. Dalam perjalanan ke arah anus, gelembung-gelembung kecil bergabung jadi gelembung besar. Kalau tidak ada gerak peristaltik, gelembung gas akan menerobos ke atas lagi, tapi tidak terlalu jauh, karena bentuk usus yg rumit & berbeit-belit. (Bayangkan kalo kentut keluar dari lubang hidung).

8. Berapa waktu yang diperlukan oleh kentut untuk melakukan perjalanan ke hidung orang lain ?
Tergantung kondisi udara, seperti kelembaban, suhu, kecepatan & arah angin, berat molekul gas kentut, jarak antara ‘transmitter’ dengan ‘receiver’. Begitu meninggalkan sumbernya, gas kentut menyebar & konsentrasinya berkurang. Kalau kentut tidak terdeteksi dalam beberapa detik, berarti mengalami pengenceran di udara & hilang ditelan udara selama-lamanya. Kecuali kalau anda kentut di ruang sempit, seperti lift, mobil, konsentrasinya lebih banyak, sehingga baunya akan tinggal dalam waktu lama sampai akhirnya diserap dinding.

9. Apakah setiap orang kentut ?
Sudah pasti, kalau masih hidup. Sesaat setelah meninggalpun orang masih bisa kentut. (Makanya gak usah malu kalo sering kentut)

10. Betulkah laki-laki kentut lebih sering daripada perempuan ?
Tidak ada kaitannya dengan gender.. Kalau benar, berarti perempuan menahan kentutnya, & saat kentut banyak sekali jumlah yg dikeluarkan. (Makanya kentut perempuan lebih bau, ha..ha….)

11. Saat apa biasanya orang kentut ?
Pagi hari di toilet. yang disebut “morning thunder”. Kalau resonansinya bagus, bisa kedengaran di seluruh penjuru rumah.

12. Mengapa makan kacang-kacangan menyebabkan banyak kentut ?
Kacang-kacangan mengandung zat gula yang tidak bisa dicerna tubuh. Gula tsb (raffinose, stachiose, verbascose) jika mencapai usus, bakteri di usus langsung berpesta pora & membuat banyak gas. Jagung, paprika, kubis, kembang kol, susu juga penyebab banyak kentut (bukan baunya!).

13. Selain makanan, apa saja penyebab kentut ?
Udara yang tertelan, makan terburu-buru, makan tanpa dikunyah, minum soft drink, naik pesawat udara (karena tekanan udara lebih rendah, sehingga gas di dalam usus mengalami ekspansi & muncul sebagai kentut).

14. Apakah kentut sama dengan sendawa, tapi muncul dari lain lubang ?
Tidak… sendawa muncul dari perut, komposisi kimianya lain dengan kentut . Sendawa mengandung udara lebih banyak, kentut mengandung gas yang
diproduksi oleh bakteri lebih banyak.

15. Kemana perginya gas kentut kalau ditahan tidak dikeluarkan ?
Bukan diabsorbsi darah, bukan hilang karena bocor.. Tapi bermigrasi ke bagian atas menuju usus & pada gilirannya akan keluar juga. Jadi bukan lenyap, tapi hanya mengalami penundaan.

16. Mungkinkah kentut terbakar ?
Bisa saja. Kentut mengandung metana, hidrogen yang combustible (gas alam mengandung komponen ini juga). Kalau terbakar, nyala-nya berwarna biru karena kandungan unsur hidrogen. (Kalo naik gunung, lupa bawa korek api tapi mau masak indomie, pakai aja kentut buat nyalain kompor)

17. Bisakah menyalakan korek api dengan kentut ?
Jangan mengada-ada. .. konsistensinya lain. Juga suhunya tidak cukup panas untuk memulai pembakaran.

18. Mengapa kentut anjing & kucing lebih busuk ?
Karena anjing & kucing adalah karnivora (pemakan daging). Daging kaya akan protein. Protein mengandung banyak sulfur, jadi bau kentut binatang ini lebih busuk. Lain dengan herbivora seperti sapi, kuda, gajah, yang memproduksi kentut lebih banyak, lebih lama, lebih keras bunyinya, tapi relatif tidak berbau. (Makanya lebih baik pelihara gajah di rumah daripada anjing).

19. Betulkah bisa teler kalau mencium bau kentut 2-3 kali berturut-turut ?
Kentut mengandung sedikit oksigen, mungkin saja anda mengalami pusing kalau mencium bau kentut terlalu banyak. (Makanya yang punya hobi cium bau kentut, sebaiknya dikurangin)

20. Apakah warna kentut ?
Tidak berwarna. Kalau warnanya oranye seperti gas nitrogen oksida, akan ketahuan siapa yang kentut.

21. Kentut itu apakah asam, basa atau netral ?
Asam, karena mengandung karbondioksisa (CO2) & hidrogen sulfida (H2S).

22. Apa yang terjadi kalau seseorang kentut di planet Venus ?
Planet Venus sudah banyak mengandung sulfur (belerang) di lapisan udaranya, jadi kentut di sanapun tidak ada pengaruhnya.

baca selengkapnya...

Tuesday, January 29, 2008

Napi Kocak




baca selengkapnya...

Monday, January 28, 2008

Horor, bukan???

Kisah yang sangat menyeramkan dan mengerikan ini terjadi pada seorang staff laki-laki yang bekerja di lantai 14 sebuah gedung di jalan Sudirman - Jakarta. Pada hari tersebut (hari kamis malam jumat) beliau bekerja lembur dan terpaksa pulang agak larut malam sekitar jam 23:00 malam sendirian. Sampai di depan lift, dia pun tekan tombol untuk turun.

Kemudian pintu lift terbuka tanpa ada siapa-siapa didalamnya. Dia masuk dan menekan tombol ‘G’ untuk menuju ground floor. Tetapi entah kenapa lift ini bukannya turun melainkan terus naik keatas. Lift berjalan terus hingga sampai ke lantai 25, berhenti dan terbuka. Ketika pintu lift terbuka, ada seorang wanita cantik jelita dan menawan sekali tersenyum manis dan masuk ke lift.

Si Staff laki-laki tersebut merasa heran…..karena dia merasa tidak pernah melihat perempuan tersebut selama dia bekerja di gedung tersebut. Perempuan tersebut masuk dan berdiri di belakangnya. Diapun bertanya-tanya dalam hatinya … siapa perempuan tersebut, dan kenapa sudah lewat malam belum pulang kerumahnya. Mau disapa terasa malu pula, jadi masing-masing saling terdiam. Dalam suasana hening dan sunyi itu, lift turun perlahan tingkat demi tingkat. Tapi ketika sampai pada lantai 10 , lampu lift padam dan lift berhenti. Seketika itu dia mencium aroma bau yang teramat busuk, yang mengganggu hidungnya. Dan bulu romanya tiba-tiba merinding. Diapun langsung berkeringat dingin dan ……. sebisa-bisanya membaca ayat-ayat suci yang terlintas dikepalanya sambil memberanikan diri dan perlahan-lahan menoleh kebelakang setelah lampu lift menyala.

Dan apa yang …..dilihat….?

Tiba-tiba saja, perempuan yang berada dibelakangnya tertawa malu…dan berkata:

“Maaf ya ‘Mas’, saya kentut ..”

baca selengkapnya...

Tuesday, January 22, 2008

Kematian Paman Gober

Sebuah cerpen oleh Seno Gumira Ajidarma

Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, "oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu." Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakan nya Kwak, Kwik, dan Kwek, hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi legenda yang disukai. Pman Gober begitu rakus. Pman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.

"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.

"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.

"Belum mati juga!"

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Bnyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-korantelah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?"

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.

"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."

"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."

"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."

"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."

"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."

"Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi."

"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.

" Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?"

"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.

baca selengkapnya...

Monday, January 21, 2008

Download File .mp3 Dari Multiply

Multiply.com merupakan salah satu situs jejaring sosial dimana di sana kita dapat berbagi banyak hal kepada orang lain, baik itu member situs tersebut atau bukan. Salah satunya adalah musik atau file-file .mp3. Fasilitas untuk mengunduh file-file .mp3 tersebut sekarang ini sudah dihilangkan oleh pihak Multiply sehingga kita hanya bisa menikmati fasilitas streaming saja.

Nah, sekarang jangan khawatir karena saya punya sedikit trik untuk mengunduh file .mp3 yang ada di Multiply . Caranya sih cukup mudah, antara lain:
  • Login terlebih dahulu. Bagi yang belum mempunyai account Multiply silahkan register terlebih dahulu (santai aja gratis ini :)).
  • Cari file .mp3 atau musik yang ingin kamu unduh dengan memanfaatkan fasilitas "search" yang ada di Multiply
  • Klik link situs yang memuat file .mp3 atau musik yang kamu cari tersebut.
  • Klik kanan pada link "Play this playlist" dan pilih Save target as.. pada Internet Explorer atau Save Link As.. pada Mozilla Firefox.
  • Ketika dialog box menanyakan lokasi penyimpanan, pilih saja pada direktori yang diinginkan. Sekalian saja ubah ekstensi file dari .m3u menjadi .txt.
  • Untuk pengguna Windows, buka Wordpad (dari Start — Programs — Accessories). Dengan Wordpad, arahkan ke direktori dimana menyimpan file playlist tadi, dan pilih file blabla.txt tadi untuk dibuka.
  • Sekarang tentunya dapat melihat baris-baris yang merupakan alamat web dari masing-masing file. Pilih-pilih saja berdasarkan nama file mp3 yang ada pada bagian tengah baris. Copy-paste ke address bar browser (seperti Internet Explorer atau Firefox), dan seharusnya proses download file .mp3 pilihan akan dimulai.
Selamat mencoba... :)

baca selengkapnya...

Wednesday, January 16, 2008

Feminisme koq,,, salah kaprah?

Feminisme rasanya tidak asing lagi di telinga kita. Adalah gerakan yang diawali oleh persepsi tentang ketimpangan posisi keperempuanan. Kartini -pahlawan Indonesia-red- biasa menyebutnya dengan Emansipasi. Pada awalnya feminisme bangkit untuk membela para wanita dari ketertindasan serta menuntut penyerataan hak perempuan dan laki-laki dalam segala bidang.

Tapi kemudian Feminisme, yang semula lahir sebagai gerakan yang membela kaum wanita dalam meningkatkan harga diri wanita yang ingin dinilai sesuai dengan potensinya sebagai manusia tanpa harus memandang gender, kemudian mulai disalahartikan. Ingin menaikan harga diri tapi malah menjatuhkan (harga) diri sendiri.

Sedikit cerita, di Austria kesalahpahaman mengenai arti kata “Feminisme”, membuat bocah 14 tahun mau bertukar pasangan 3 kali dalam sehari. Ketika ditanya alasannya, kemudian ia menerangkan “Boys can do it, then why we can`t…saya merasa bangga bisa menaklukan 3 orang cowok dalam sehari. Dan diantara mereka tidak perlu ada yang tahu satu dengan lainnya. Itu kan yang biasa dilakukan pria, seenaknya berganti-ganti pasangan, kemudian menyakiti para gadis”.

Di belahan negara lainnya, seorang wanita menuntut persamaan toilet, karena wanita diyakini juga dapat (maaf) kencing berdiri seperti halnya pria. Saya juga pernah mendengar adanya gerakan “Feminisme bertelanjang dada” dan “gerakan pembakaran BH”.

Feminisme kemudian disalahartikan oleh kaum wanita itu sendiri. Banyak wanita yang menjadi korban salah kaprah ini. Ironis sekali, Feminisme yang terlahir sebagai cita-cita mulia para wanita pendahulu, kemudian berubah menjadi kemerosotan harga diri seorang wanita, yang lucunya - namun juga menyedihkan – si wanita itu sendiri tidak menyadarinya. Menyadari bahwa ia telah menjatuhkan harga dirinya.

Di Indonesia sendiri? Virginitas bagi wanita Indonesia(tidak semuanya), sekarang bukanlah suatu hal yang patut dipertahankan lagi. Saya pernah bertanya pada seorang teman -wanita juga-red- , apa yang menyebabkan wanita tak perlu lagi mempertahankan ke-virgin-annya, ia menjawab “Kalau pria saja bisa mengobral ke-virgin-annya(keperjakaan), mengapa kita harus menjaganya? Saat kita mulai menjalani hubungan itu(pacaran), kita gak pernah tau apakah dia masih(perjaka) atau gak. Lagian bukan suatu hal yang aneh lagi jika di zaman sekarang ini banyak cewek yang gak virgin lagi”. Benarkah jawaban atas semua itu adalah zaman semata?

Kerancuan anggapan mengenai “Feminisme” inilah yang perlu dibenahi.Anggapan yang kemudian menggeser tradisi dan budaya yang kita banggakan dengan budaya kiriman yang baru (Western).

Hal lain! Menurut pengamatan yang saya lakukan, rupanya di Indonesia, Bandung khususnya, rokok menjadi komoditas utama yang digemari wanita-wanita zaman sekarang, selain pakaian dan cemilan. Menurut sebagian diantaranya, rokok lebih bisa menenangkan pikiran, dibandingkan shopping&ngemil –ada sebagian wanita yang lari dari permasalahan dengan cara-cara ini-red.

Dan alasan lainnya, tentu saja “cowok juga ngerokok kok… kenapa kita-kita gak boleh??” Padahal tidak perlu di jelaskan lagi, semua yang saya jabarkan di atas (termasuk rokok), tak lain akan merugikan kaum wanita itu sendiri.

Sebodoh itukah wanita-wanita sekarang? “Feminisme”(radikal) telah menutup mata hati mereka untuk melihat kerugian yang mereka alami. Sebodoh itukah? Padahal banyak diantara mereka yang mengeyam pendidikan dan pengajaran.

Bukan saatnya kita berdebat apakah karena saking bodohnya mereka atau saking pintarnya. Saatnya sekarang wanita-wanita bangkit memperjuangkan Feminisme yang sebenarnya. Bagi wanita-wanita yang sudah telanjur pada kesalahan yang tidak ‘disengaja’ tadi, bangkitlah dari keterpurukan. Bagi wanita-wanita yang mampu melihat fenomena ini, bantulah untuk bangkit. Kita harus benar-benar bersatu.

O ya! Bagaimana kalau saya ajak anda-anda berpikir sebaliknya? Kalau selama ini wanita selalu saja dituntut untuk menjaga budaya ketimuran (yang semula dirasa menguntungkan kaum pria), hingga akhirnya muncul yang namanya “Feminisme”yang kemudian disalah-artikan, dan menyebabkan serba salah. Bagaimana kalau sekarang kita yang menuntut mereka-kaum pria-red- untuk tidak hanya menuntut keperawanan, tapi mereka juga harus menjaganya (keperjakaan) juga.

Kita sudah terlalu sering mengikuti mereka, bahkan membuat mereka menjadi satu acuan kesetaraan. Bagaimana kalau sekarang, mereka mengikuti kita? Harus dimengerti memang, kalau wanita perawan sekarang sangat jarang ditemui. Oleh karena itu pria sebaiknya tak usah mempermasalahkan Virginitas wanita(biarkan kaum wanita itu sendiri yang mempermasalahkan dan mencari solusi bagi dirinya). Pria sebaiknya lebih menghargai wanita, baik ia virgin (apalagi) atau tidak virgin (apa boleh buat). Toh selama ini wanita selalu menghargai pria tanpa memandang Virgin atau tidaknya.

Dan sekali lagi, jangan hanya menuntut wanita untuk menjaga kaidah-kaidah ketimuran. Pria juga wajib menjaga dong (pahala), sebagaimana kaidah-kaidah keagamaan. Selama ini wanita dituntut untuk lebih mengerti dan mau menjaga. Pria? Rasanya tidak ada tuntut yang seperti itu dalam hal ini.

Mengenai rokok? Katakan saja ”Ngertilah....hari gini gitu loh..(zaman sekarang). Kalian-pria-red- juga jangan ngerokok dong.. jangan cuma bisa ngelarang doang”. Kenapa saya katakan zaman sekarang? Zaman yang udah berubah mau gak mau harus kita terima sementara, sebelum kita benar-benar mengubahnya.

Bagaimana? Siap untuk merubahnya wanita-wanita? Memperjuangkan hak-hak wanita yang sebenarnya? Anda yang tahu jawabannya. Anda juga yang lebih tahu caranya.

Dikutip dari: dudung.net

baca selengkapnya...

Friday, January 11, 2008

[End]Matinya Hercules dan Xena

Kisah Sebelumnya...

***

Negeri di Awan, tak berwaktu.

Petir menggelegar. Awan menutupi cakrawala. Dewa-dewi dirundung dukacita mahahebat atas matinya Hercules dan Xena. Mereka sedih bukan kepalang – berhari-hari mengadakan upacara kematian, bernyanyi-nyanyi dalam kolam kepedihan. Mereka kecewa. Mereka menyesal, mengapa mengorbankan Hercules dan Xena. Mereka murka terhadap negeri yang membunuh putra-putri terbaik mereka. Mereka benci, teramat benci. Dendam berkobar di pusat mata….

Tanpa dikomando lagi, seluruh dewa-dewi berkumpul dengan pakaian perang. Masing-masing menciptakan pasukan perang (anjing, kucing, rajawali, kodok, heina, serigala, banteng, monyet, singa, harimau, gajah, buaya) lengkap dengan persenjataan ampuh.

Seketika angin berseliweran. Petir menyambar-nyambar. Ombak menggeram. Awan gulung-gemulung. Gunung-gunung berloncatan. Hujan menderas ganas. Semua bersatu dan berpacu dalam mission impossible: meluluhlantakkan negeri yang mereka sebut Negeri Jahanam!


***

Negeri tanpa peta, dalam hitungan burung hantu.

Bersamaan petir menggelegar dahsyat, langit mendadak gelap. Teramat gelap dengan awan bergulung hitam. Dari balik awan menyerbu jutaan kelelawar dan burung-burung gagak bersayap darah, memekik-mekik – berlelehan kutukan…

”Ssssrrrrrrrrrkkkkqqqqq….! Gggrrrrrrrrhhhhhsssssiiissss…..! Kkkrrrrrrraaaaaaakkkkkkggggghh….! Wweeeeerrrrrrrrrxxxxmmmmmmssss……!”

baca selengkapnya...

Wednesday, January 9, 2008

[Part II]Matinya Hercules dan Xena

Kisah Sebelumnya...

”Sedari tadi kami sudah mendengar pembicaraan dewa-dewi yang mulia. Dan kami sudah tahu tugas kami. Kami sangat memahaminya. Tak perlu ragu. Kami siap menyelesaikannya,” tegas Hercules, tegar. Xena pun mengangguk pasti.

Mendengar semangat juang Hercules dan Xena, seketika dewa-dewi terpana lega. Wajah kembali diangkat. Sekujur tubuh mereka bermandikan cahaya yang luar biasa. Lalu, mereka berlompatan sambil bersorak: ssssuuuuuiiiiiitttjjjjbbbblllluuuungggg…

”Masalah hidup mati kami tak perlu diperdebatkan. Apalagi seluruh makhluk tahu, kita tak mungkin mati,” ucap Hercules.

Mendengar itu, cahaya yang memenuhi dewa-dewi semakin berpendaran, dan sorak semakin riuh: sssuuuiiiirrrrjjjjbbbblllluuunnggggeeeeennggg….

”Masih berjubel masalah lain yang lebih pelik yang patut diperdebatkan. Misalnya, masalah anak-anak terlantar, pengangguran, dan sekolah-sekolah yang ambruk. Itu perlu dicarikan solusi. Terlebih lagi, masalah politikus yang banyak omong, patut dibasmi,” lanjut Xena seraya mengedarkan pandangan ke seluruh dewa-dewi, ”Mulai banyak di antara dewa-dewi yang nganggur tetapi terus foya-foya. Segala cara dihalalkan asal dapat memperoleh kenikmatan. Juga semakin banyak dewa-dewi yang kerjanya cuma jual janji, tetapi tak satu pun terbukti. Kerjanya cuma menipu ke sana-ke mari.”

Bagi dewa-dewi yang masih berjiwa, segera menunduk, malu. Sementara dewa-dewi yang tak berjiwa atau kehabisan jiwa, tetap cuek – bahkan ada yang mangut-mangut, seolah paling suci.

”Betul. Persoalan-persoalan seperti itu patut segera diselesaikan,” tandas Hercules.

Di antara dewa-dewi, ada yang tersedu-sedu menepuki kepala:

nngguuiiiinngggxxxxiiiinnnggsssrrreeeeelllkkkfff…

”Satu hal yang kami pelajari, mati dalam tugas adalah suatu kehormatan,” tambah Xena, ”dari pada mati kecebur di comberan, diseruduk sapi, atau keserempet truk.”

Tiba-tiba dewa-dewi terperangah senang dan bersorak bangga: tttrrrruuuuuiiiiinggggg…

”Jadi, sungguh, kalian siap menjalankan misi mahapenting ini?” tanya dewa berpakaian cahaya keemasan.

Hercules dan Xena mengangguk.

”Sudah siap menghadapi segala risiko yang mengancam di lapangan?”

Hercules dan Xena kembali mengangguk.

”Meski keberadaan kalian menjadi taruhan?”

”Tugaskan saja kami. Apa pun risikonya siap kami hadapi. Dan kami akan bertanggung jawab terhadap segala perbuatan kami,” tegas Hercules dan Xena berbarengan. ”Tak perlu cari kambing hitam.”

Dewa-dewi bertepuk tangan, bersorak sukacita tiada terkira: tttrrruuuuiiinnngggrreeeeeennnngggg….

Maka, dengan membawa segala ilmu dan persenjataan, Hercules dan Xena berangkat, turun ke bumi – menumpas kejahatan yang merajalela di sebuah negeri.


***

Negeri tanpa peta, dalam hitungan burung hantu.

Hercules dan Xena terperangah. Mulut mereka sampai menganga sedalam goa. Benar-benar tak percaya atas segala peristiwa yang terjadi di negeri yang kini di depan mata.

Begitu Hercules dan Xena menjejakkan kaki, tepatnya di tanah air negeri yang ditakutkan dewa-dewi itu, langsung disambut huru-hara mengerikan. Orang-orang saling serang, saling bunuh. Wanita-wanita diperkosa beramai-ramai. Darah berceceran di jalan-jalan dan pekarangan rumah – dijadikan hiasan. Korban bergelimpangan – persis sampah. Pistol, pisau, pedang dan kelewang dijadikan mainan. Sementara pejabat dan konglomerat asyik berjudi sambil minum arak dan makan sate hati siapa saja.

”Ya, ampun!” pekik Xena terbelalak selebar-lebarnya. Bolamatanya hampir meloncat. ”Gimana mungkin kita mampu melawan keganasan turun-temurun ini? Lebih buas dari seribu singa!”

Hercules mengempas napas, tak berdaya. ”Kebuasan mereka bahkan sudah berurat berakar. Otak mereka sudah dijejali cacing, ulat dan lintah. Hati mereka sudah menjadi sarang ular-ular berbisa. Tubuh mereka sudah menjadi hunian iblis dan hantu. Saya yakin, mereka jauh lebih kejam dari Medusa,” resah Hercules.

”Sudah kita habisi ratusan penyihir jahat yang memiliki kesaktian luar biasa, tetapi, ah, rasanya kita tak sanggup mengalahkan mereka,” sahut Xena.

”Lihat, cenderawasih mereka kelupas lalu dipanggang, rencong mereka patah-patahkan, hijau hutan mereka cabik-cabik, selendang biru danau mereka koyak-moyak, nyanyian sungai mereka nodai hingga berlendir hitam. Ah, tak terhitung keganasan mereka…”

”Melihat besarnya kekuatan jahat mereka, saya tak tahu bertindak apa,” ucap Hercules. ”Baru pertama kali seumur hidup saya menyaksikan kejahatan selaknat ini.”

”Malah, aku yakin, kuasa kejahatan mereka lebih besar dari seratus iblis laknat sekali pun. Kekuatan kita tak ada artinya,” lirih pedih Xena.

”Ya, kita tak akan mampu mengubah mereka, meski dengan segala ilmu, kuasa dan persenjataan yang kita punya,” tanggap Hercules. ”Jangan-jangan, kekuatan seluruh dewa-dewi pun tak akan sanggup mengalahkan mereka.”

Pelahan, lemas segala persendian Hercules dan Xena. Di saat itulah ribuan lembing hinaan dilontarkan ke arah mereka.

”Hei, lihat, artis menyambangi kita! Emangnya suting film atau sinetron, berjudul ‘ketololan tiada akhir’! Atau, mereka sedang melakonkan adegan pejabat pura-pura turun ke desa!”

”Ah. Paling juga orang gila! Orang sok jagoan yang punya ilmu kebal dan bisa terbang. Puih, kayak film Indonesia!”

Lalu, mereka tertawa dan berjumpalitan – lebih seram dari drakula. Lalu, mereka melucuti pakaian, telanjang menari-nari, sesukanya.

Hercules dan Xena terkejut luar biasa. Tetapi, tiba-tiba tawa itu berubah penyerbuan senjata tajam dan caci maki. ”Bangsat! Jahanam! Kurang ajar! Bajingan tengik! Anak jadah! Setan!”

Hercules dan Xena lebih tercekam. Lalu, caci maki itu memuncak menjadi tuduhan keji disertai lemparan kotoran ke muka Hercules dan Xena. ”Mereka pengkhianat! Perampok! Penipu! Perusak moral! Pemerkosa! Pembunuh! Aktor intelektual! Penyulut pertikaian!!!”

Hercules dan Xena ketakutan, menggigil gemetaran, melihat mereka berubah menjadi ular-ular raksasa buas berkepala tujuh bertanduk seribu. Ribuan pasang mata nyalang merah tuba siap memangsa. Dan air liur merembes jingga di debu tanah.

Tiba-tiba terdengar teriakan, ”Buuunnnnuuuuuhhhhhh…!!!”

Sebelum Hercules dan Xena tersadar atas bahaya yang di depan mata, ular-ular raksasa buas berkepala tujuh bertanduk seribu itu berlomba menerkam:

”Nngggggrrrrrrrrreeeeekkkkkkkqqqjjjjhhhhh…..!!!”

Bersusah payah Hercules dan Xena melawan. Segala ilmu, kuasa dan persenjataan mereka keluarkan, tetapi tak mampu menghalau serangan ular-ular raksasa kelaparan itu. Serangan menderas tuba. Hercules dan Xena kewalahan. Serangan bukan berkurang, malah semakin banyak; mati satu tumbuh seribu — bermunculan dari tingkap-tingkap kegelapan dengan mata berkilatan dan taring haus darah. Hercules dan Xena sudah kehabisan ilmu dan kehebatan, hingga terdesak kelelahan dengan tubuh tercabik-cabik.

Akhirnya, diiringi jerit ketidakberdayaan dan petir yang menggelegar, Xena roboh bermandi darah, disusul Hercules. Ular-ular raksasa edan itu segera mengerubungi, menjilati darah, dan menyeret tubuh Hercules dan Xena ke dalam kegelapan tak bertepi…(bersambung)

Bagaimanakah reaksi Negeri Awan mendengar kekalahan Hercules dan Xena ini?


baca selengkapnya...

Friday, January 4, 2008

[Part I]Matinya Hercules dan Xena

Sebuah cerpen Maroeli Simbolon

Negeri di Awan, tak berwaktu. Dewa-dewi sedang mengadakan rapat penting dengan agenda utama: ”kekuasaan dewa-dewi terancam, sedang menuju kematian, akibat pengaruh negatif suatu negeri”. Entah negeri apa. Saking pelik persoalan mahapenting ini, mereka sampai tak mencatat nama negeri itu. Cuma wajah mereka berkerut-merut, bahkan ada yang sekujur tubuhnya ikut mengerut. Betapa mereka dililit persoalan yang luar biasa sulit.

Suasana sepi. Angin pun tak berani mengganggu keseriusan mereka. Persoalan ini sangat mendesak diselesaikan. Jika tidak, keberadaan dewa-dewi di ambang kehancuran total. Tetapi, apa yang terjadi? Sudah tujuh belas tahun mereka memikirkannya, otak mereka tak kunjung menemukan kunci penyelesaiannya. Entah kenapa. Apakah kekuatan mereka selaku dewa-dewi juga mulai terpengaruh oleh negeri itu?

”Apa yang harus kita lakukan menghalau pengaruh buruk negeri itu? Tidak adakah dari kita yang mampu memberi masukan?” tanya dewa yang berpakaian cahaya keemasan.

Dewa-dewi lainnya tetap merenung dan berpikir.

”Ah. Percuma saja kita dewa…” rutuknya. Lalu, ia mondar-mandir dengan tubuh semakin berkerut. ”Kerja kita cuma tahu memuji yang baik dan mengutuk yang jelek.”

Mendengar itu, secara tak sadar mereka mengakui, kekuasaan mereka tak mampu meredam pengaruh buruk negeri yang mengancam harmoni mereka. Untuk menghadapi negeri yang mereka sebut tak mengenal kasih sayang itu, sepertinya mereka tak berdaya. Haruskah mereka menjadi badut yang tak lucu, atau menjadi katak bodoh?

”Persoalan ini harus segera diselesaikan. Jika tidak, tinggal menghitung waktu, kita akan habis,” tanggap dewi yang berpakaian cahaya ungu keemasan. ”Coba rasakan pengaruh busuk dan tamak negeri itu sangat kuat menyusupi kita. Ini sangat berbahaya bagi kelangsungan kita. Ini tak boleh kita biarkan.”

Semua dewa-dewi mengangguk, tetapi tubuh semakin mengkerut.

”Betul. Saya kira, kita semua setuju pendapat itu. Masalah krusialnya, apa dan bagaimana menyelesaikannya,” tanggap dewi berpakaian cahaya keperakan sambil meluncur.

Dewa-dewi lainnya kembali merenung, membisu. Bahkan, ada yang semakin mengkerut di balik gugusan awan. Suasana semakin sepi sepisau nyeri.

Dan tiba-tiba, di tengah kebisuan yang mencekam itu, salah satu dewa cebol berpakaian cahaya pelangi teriak, ”Aku ada akal!”

Serta-merta suaranya yang keras cempreng itu mengagetkan dewa-dewi lainnya. Maka, sorot mata tertuju tepat ke arahnya, menanti tak sabar. Tetapi, dewa cebol berpakaian cahaya pelangi malah menunggu respons dari teman-temannya. ”Bagaimana?”

Dewa-dewi lainnya menjadi kesal bercampur geli. ”Bagaimana apanya?” dewi berpakaian cahaya kebiruan balik bertanya sambil menggeram ”Ya, kalian setuju usulku?”

”Setuju gimana? Kamu belum menyebutkan isi usulmu…”

Dewa cebol berpakaian cahaya pelangi tertawa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang agak pitak. ”O, iya, ya,” ujarnya menyadari kesalahannya. ”Maksudku begini,” lanjutnya seraya menggelinding ke depan, ”Gimana jika kita tugaskan Hercules dan Xena untuk menyelesaikan masalah ini?!”

Petir menggelegar. Seketika dewa-dewi terkesima. Cukup lama terdiam, saling tatap. Hingga kemudian, pelahan-lahan satu per satu wajah mereka memancarkan cahaya.

”Usul menarik,” tanggap dewa berpakaian cahaya pelangi keemasan. ”Tak ada salahnya jika kita coba. Kita tugaskan Hercules dan Xena turun ke bumi untuk memberantas penyakit negeri itu. Ternyata, begitu gampang menyelesaikannya.”

”Betul,” seru dewa-dewi lainnya, nyaris serempak.

”Betul. Itu tugas gampang bagi Hercules dan Xena. Harus segera dilaksanakan.”

”Mengapa selama ini kita tak berpikir cerdas, ya?” gerutu dewa berpakaian cahaya hijau keperakan sambil menepuk-nepuk keningnya yang menonjol. ”Hampir delapan tahun kita habiskan sia-sia untuk membahas ini. Ah, memalukan.”

Dewa-dewi lainnya tersipu-sipu, dan akhirnya tertawa geli — menyadari ketololan.

”Kalau begitu, biar saya panggilkan Hercules dan Xena,” ujar dewa cebol berpakaian cahaya pelangi. Dan bersiap menggelinding menembus awan.

”Tunggu dulu!” teriak dewa berpakaian cahaya kuning keperakan, yang sedari tadi berdiam diri dengan bergelantungan di atas.

Maka, seketika dewa cebol berpakaian cahaya pelangi berhenti. Dewa-dewi lainnya spontan menoleh.

”Sebelum Hercules dan Xena dipanggil untuk misi mahapenting ini, aku cuma ingin menanyakan sesuatu...” lanjutnya seraya memperhatikan dewa-dewi lainnya.

”Begini. Pada prinsipnya aku setuju. Tetapi, perlu kita pikirkan bersama-sama, bagaimana jika Hercules dan Xena gagal?”

Dewa-dewi lainnya terperangah: Aaaaaaaakkhhh! Lalu, tertawa: wweeeeeerrrrr…

”Apakah kalian tidak memikirkan hal terburuk?”

Dewa-dewi mangut-mangut, lalu kasak-kusuk. ”Hercules sendiri saja pasti berhasil menyelesaikannya, apalagi dibantu Xena. Nah, mana mungkin Hercules dan Xena gagal...” teriak dewa-dewi hampir bersamaan diiringi tawa menggelegar: wweeeeerrrrrrrr... Lalu, mereka berputar-putar di udara. Suasana menjadi bising: zzzzuuuuuuiiiiiiiiiiiiiiinnnnngggggg…

Di tengah kebisingan itu, dewa cebol berpakaian cahaya pelangi bicara keras, ”Jelas, itu tak perlu kita bahas. Saat ini, kita cuma butuh cara cepat dan akurat menuntaskan penyakit kronis yang melanda negeri itu sebelum pengaruhnya menghancurkan kita!”

Mendengar penjelasan itu, dewa-dewi lainnya bersorak, dan kembali berputar-putar di udara: zzzzuuuiiiiiinnnggggggsssllleeeekkkk…

Dewa berpakaian cahaya kuning keperakan berjumplitan sambil bicara, ”Sudah kukatakan, aku setuju usul itu. Tetapi, tak kurang penting untuk kita pikirkan, gimana bila tugas itu mengalami kegagalan.”

”Adakah yang meragukan Hercules dan Xena?”

”O, tidak. Sungguh, tak ada yang meragukan kekuatan mereka. Setiap tugas selalu mereka selesaikan dengan hasil yang luar biasa.”

”Nah, apa lagi?” tegas dewa cebol.berpakaian cahaya pelangi. ”Lebih cepat mereka bertindak, tentu lebih baik.”

”Silakan,” ucap dewa berpakaian kuning keperakan sambil tersenyum. ”Tetapi, apa yang harus kita lakukan, jika mereka gagal?”

Dewa cebol berpakaian cahaya pelangi menggeram. ”Jika tidak kita coba, apa kita tahu mereka gagal?” tantangnya. ”Harus kita mulai!”

”Maksudku, gimana bila Hercules dan Xena tewas?” desak dewa berpakaian cahaya kuning keperakan.

Mendadak kebisuan menyergap. Dewa-dewi termangu. Dewa cebol berpakaian cahaya pelangi bertopang dagu.

”Maaf. Ini perlu juga kita pikirkan. Siapa yang bertanggung jawab bila misi Hercules dan Xena gagal?”


Suasana semakin bisu menjadi batu. Dewa-dewi tertunduk. Dan selendang kesunyian ini cukup lama menyelimuti mulut dewa-dewi. Bahkan angin sepertinya berhenti bertiup. Hingga kemudian, entah bagaimana, Hercules dan Xena telah muncul di tengah-tengah mereka, memperhatikan mereka satu per satu. Sebaliknya dewa-dewi merenung.....(bersambung)

Bagaimanakah reaksi Hercules dan Xena terhadap kejadian ini?

baca selengkapnya...

Thursday, January 3, 2008

Hibernasi Selama Satu Bulan

Wah, parah juga nih blog saya! :( Tidak ter-update selama 36 hari. Alasannya sih klasik, sibuk di dunia nyata baik dari yang penting sampai yang kurang penting seperti mempersiapkan + mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS), menyelesaikan tugas-tugas kuliah, sampai dengan mempersiapkan bahan untuk liburan alias download film (Ha...ha..ha...ha...ha). Padahal sih, ide-ide untuk mengisi blog ini sudah banyak sekali sampai-sampai ide-ide itu tumpah berceceran ke jalan-jalan karena sudah tidak dapt ditampung lagi :p

Sebelumnya, untuk menulis kembali di blog ini, saya harus mengalami gejolak batin yang sangat tinggi (cieeeee....). Saya sempat frustasi dengan blog ini, apakah dimatikan saja atau tidak. Akhirnya, datang juga juru penyelamat saya — Bung Toni — yang telah memberikan motivasi kepada saya untuk melanjutkan menulis di blog. Saya mohon maaf sekali terhadap pembaca atau komentator blog saya apabila selama ini tidak bisa membaca atau memberikan komentar pada blog saya (Uhuuk...uhuuk).

baca selengkapnya...

Wednesday, November 28, 2007

Terancam Gak Bisa Ngoding

Sore hari yang mendung, seorang lelaki kecil sedang mengalami kegelisahan, gelisah karena pada sore hari tersebut belum dimulai juga permainan bola futsal. Sempat terdengar sayup-sayup di telinga kabar bahwa permainan bola futsal tersebut dibatalkan disebabkan oleh teman-temannya sibuk mengerjakan tugas kuliah. Kekecewaan pun muncul dalam batin. Namun, kekecewaan tersebut akhirnya terobati sejam kemudian ketika seorang kawannya memberi tahu bahwa permainan bola futsal tetap ada walaupun dengan kondisi yang berbeda dari yang direncanakan.

(Ganti sudut pandang jadi orang pertama) Mengetahui hal tersebut, saya langsung bergegas menuju lokasi, yakni di lapangan parkir dekat Fasilkom. Namun, hadangan menyambut saya terlebih dahulu ketika keluar dari pintu Gedung A. Tiga orang maba 2007 menodong saya untuk mengisi tanda tangan di buku mereka masing-masing. Beberapa menit berlalu, akhirnya tiba juga waktunya bermain bola. Cukup ramai yang berpartisipasi. Permainan bola ini terasa tidak serius karena kondisi lapangan yang berkerikil sehingga yang terasakan oleh saya hanyalah kelucuan-kelucuan melihat banyaknya pemain yang terpeleset.

Sekitar 30 menit berlalu, sudah banyak anak Fasilkom yang berdatangan walaupun hanya sekedar menonton. Akhirnya akibat rasa ketidaksabaran, mereka langsung bergabung ke dalam permainan untuk memuaskan rasa gatal pada kakinya menendang bola. Kondisi permainan bola sudah tidak seimbang antara ukuran lapangan dan jumlah pemain. Permainan mulai berubah menjadi brutal. Pada saat itu, permainan bola saya pun juga ikut terpancing. Nah, pada saat itulah kejadian yang tak terduga menimpa saya. Saya terjatuh akibat beradu kaki dengan kawan saya sehingga menyebabkan sebagian kecil kulit pada jari tengah kanan saya terkelupas. Auuww, sakit!!! Hal ini cukup mengkhawatirkan bagi saya karena sebagai seorang mahasiswa Fasilkom, saya terancam untuk tidak bisa ngoding :D. Tidak bisa mengetik 10 jari di papan ketik.

Ketika menulis cerita ini pun, saya Auuww!!! harus hati-hati takut jari Auuww!!! tengah kanan saya menyentuh papan Auuww!!! ketik.

baca selengkapnya...

Friday, November 23, 2007

Cara Berpikir Orang Sukses

Sudah tak asing lagi nama seorang Bill Gates di telinga kita, tokoh sukses yang membawa dunia komputer dan piranti lunak menjadi maju sampai saat ini melalui perusahaannya Microsoft, sehingga dunia berada di cengkramannya. Sudah tak asing pula kita dengan nama Nabi Muhammad, tokoh tersukses di dunia ini yang telah memperkenalkan ajaran Islam ke muka bumi ini. Dia juga telah menciptakan generasi terbaik pada masa itu, bahkan sampai sekarang pun tidak ada satu pun generasi yang dapat menyamainya, sehingga ajarannya terus berkembang ke seluruh penjuru dunia, dari bumi bagian barat hingga bagian timur.

Sejenak kita berpikir tentang kedua orang sukses tersebut, apa yang membuat mereka begitu berpengaruh di dunia ini, padahal sebelumnya mereka hanyalah orang yang biasa-biasa saja? Ternyata jawabannya sederhana, mereka selalu menggunakan kekuatan pikirannya untuk memperbaiki hidupnya sehingga lebih baik. Mereka selalu mengarahkan pikirannya ke arah yang positif. Lalu, apa saja sih tipe-tipe berpikir dari orang sukses ini?

Tipe-tipe berpikir orang sukses tersebut antara lain:
  • Big picture thinking bukan small thinking. Cara berpikir ini menjadikan mereka terus belajar, banyak mendengar dan terfokus sehingga cakrawala mereka menjadi luas.
  • Focused thinking bukan scattered thinking. Sehingga dapat menghemat waktu dan energi, loncatan-loncatan besar dapat mereka raih.
  • Creative thinking bukan restrictive thinking. Proses berpikir kreatif ini meliputi: think-collect- create-correct-connect.
  • Realistic thinking bukan fantasy thinking. Memungkinkan mereka meminimalkan resiko, ada target dan perencanaan, keamanan, sebagai katalis dan memiliki kredibilitas.
  • Strategic thinking bukan random thinking. Sehingga simplifies, customize, antisipatif, reduce error and influence other dapat dilakukan.
  • Possibility thinking bukan limited thinking. Mereka dapat berpikir bebas dan menemukan solusi bagi situasi yang dihadapi.
  • Reflective thinking bukan impulsive thinking. Memungkinkan mereka memiliki integritas, clarify big picture, dan confident decision making.
  • Innovative thinking bukan popular thinking. Menghindari cara berpikir yang awam untuk meraih sesuatu yang lebih baik.
  • Shared thinking bukan solo thinking. Berbagi pemikiran dengan orang lain untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
  • Unselfish thinking bukan selfish thinking. Memungkinkan mereka berkolaborasi dengan pemikian orang lain.
  • Bottom line thinking bukan wishful thinking. Berfokus pada hasil sehingga dapat meraih hasil berdasarkan potensi pemikiran yang dimiliki.
Melihat penjabaran di atas, tentunya kita sudah dapat membandingkan cara berpikir kita dengan orang-orang sukses tersebut. Tak perlu berkecil hati apabila cara berpikir kita masih jauh dengan mereka. Justru, hal tersebut harus dijadikan motivasi bagi diri kita untuk berubah menjadi seorang yang sukses kelak.

baca selengkapnya...